Watch out

Watch out

#1 Langit

Hamparan biru juga hitam diatas sana, jauh diatas sana.. seakan tanpa sebuah jarak yang pasti dan hanya terlihat jauh.. Jauh? Seberapa jauh? Ku raih saja, dia akan berada digenggamanku.. kelihatannya saja sih.. terlihatnya.. hanya sebatas terlihat.. Luas tanpa sebuah batasan tak seperti ku yang tersekat disana-sini oleh hal-hal yang membosankan..





Hei langit.. kau sombong sekali, setiap kali aku melihatmu aku pasti mendongakkan kepala ini. Tidak bisa tidak. Tidak bisakah aku memandangmu sama sejajar dengan semuanya? sepertiku? padahal ini hanya untuk melihatmu.. Kau yang terlalu sombong atau aku yang terlalu bodoh untuk melihat kesombonganmu dengan menatap lama-lama kearahmu. Haaaaaaaahhh... Mungkin aku yang terlalu bodoh, bukan karena kau yang sombong.. mungkin kau juga layak untuk ditengadahi.. Kau terlalu indah untuk diacuhkan, dengan berbagai gerakan awan yang saling berkejaran melompat kesana kemari, juga matahari yang tak hentinya menusukkan cahayanya ke kulit bumi dan ke kedua bola mataku ini. Kau memang pintar memainkan peran, kau seperti sutradara yang berdiri dibelakang mereka semua.. Sebut saja ketika malam datang dan kau rubah warnamu menjadi hitam pekat lalu kau hamparkan benda kecil dengan sinar putih kerlap-kerlip dan terakhir kau bumbui dengan susunan beberapa dari kerlap-kerlip itu untuk menjadi sebuah susunan yang kami namakan rasi, Tidak lupa pula keberadaan bulan yang kau nampakkan secara malu-malu dengan mecicil bentuknya hingga terkadang seperti ujung kuku ini, kadang juga bulat penuh seperti saudaranya.. matahari. Sungguh sebuah pemandangan yang tak pernah membuat mata ini bosan. Tidak hanya itu, kau juga bersusah payah merubah warna awan yang seputih susu menjadi abu-abu keperakkan, sehingga nampak seperti membuatnya akan runtuh ke bumi ini.. dengan dipadukan bersama suara.. irama.. gema.. ritmik gelegar petir yang bersautan yang menggetarkan setiap hati manusia.. juga kilatan cahaya yang menjalar-jalar seakan seperti ingin menyambuk setiap jiwa yang berdosa ini.. Hingga akhirnya jatuh guyuran-guyuran titik-titik bening yang semula lamat-lamat menjadi deras.. yang semula ramai menjadi senyap, yang semula berwarna menjadi pekat.. juga kau bekukan setiap suasana dengan dingin yang menyergap setiap rasa hingga dapat menghentikan setiap keegoisan manusia untuk berhenti menurutimu.. sejenak. Sungguh sebuah pesona keindahan yang kompleks dengan kau sebagai latar belakangnya.. sang penggerak..







Ingin rasanya aku menjadi salah satu komponen dalam dramamu itu.. atau mungkin sekedar melihat lebih dekat.. Pernah kudaki sebuah puncak yang cukup tinggi hanya sekedar untuk bisa menginjakmu.. menyadarkan kesombonganmu.. memberitahumu akan keberadaanku disini.. memperhatikanmu lebih dekat... namun.. kau tetap terlalu megah untuk sekedar mengetahui keberadaanku disini.. mungkin juga kau terlalu sibuk dan lelah setelah memaparkan keidahan yang luar biasa itu sepanjang waktu untuk kami yang juga banyak tidak sadar akan apa yang kau telah lakukan.. Dan birkanlah meskipun kau tak tahu keberadaanku aku akan selalu menikmati pertunjukanmu dengan mata juga hati ini..








*Langit.. tetaplah diatas sana, hingga suatu saat aku bisa melihat ilustrasimu tentang apa yang kami sebut salju.. aurora.. juga atraksimu tentang menjatuhkan benda-benda lainnya di atmosfer itu..


#1 Langit          #2 Pohon         #3 Bumi          #4 Samudera          #5 Manusia

1 komentar: