Negara adalah salah satu bentuk sistem yang dapat mengatur penyatuan berbagai persatuan dan kesatuan akan sebuah perbedaan dalam masyarakat. Negara memberikan peraturan yang menyangkut bagaimana hak dan kewajiban setiap individu atau kelompok yang berbeda dalam porsi yang sama. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi juga menerapkan berbagai macam peraturan yang menyangkut hal tersebut yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945. Sebagai sebuah negara yang berpegang pada Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Indonesia juga menjamin kebebasan penduduknya untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Sedikit rancu menurut saya karena setiap kepercayaan atau agama tidak selalu berpegang pada Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga hingga kini banyak masyarakat yang tidak dapat menjalankan kepercayaannya secara bebas. Dan permasalahan juga muncul ketika sebuah kelompok mayoritas merasa ada yang tidak sesuai ajaran sebuah kelompok minoritas yang pada akhirnya membuat pergolakan dalam masyarakat dan menyebabkan kaum minoritas tersisihkan dan terasingkan. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa perbedaan belum benar-benar dipahami sebagai sebuah dasar atau bawaan yang tidak harus dicari kesamaannya.
Indonesia telah digariskan menjadi sebuah negara yang penuh dengan keberagaman, alam, hayati juga manusianya. Ketika berbicara tentang perbedaan antar manusia pun maka pasti akan menjalar terhadap berbagai macam hal yang bersangkutan dengannya. Dan yang menjadi salah satu perbedaan dalam kehidupan manusia adalah ras atau suku yang berkembang luas dengan berbagai kebudayaan, bahasa, adat, seni, perilaku, kebiasaan dan berbagai hal lainnya. Namun perbedaan-perbedaan itu sendiri juga menjadi salah satu jembatan dalam menyatukan perbedaan yang lain, sebut saja agama. Agama menjadi sebuah pengikat dalam berbagai suku.. Tak peduli anda jawa, bugis, melayu, arab, bule sekalipun ketika anda bernaung di bawah sebuah agama maka anda akan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya.
Seperti yang telah diketahui bahwa kemajemukan Indonesia yang berasal dari suku kedaerahan, yang membuat mereka berbeda secara kedaerahan yang terdapat kurang lebih 300 etnis dengan 1340 sukunya (wikipedia). Kemajemukan yang lain adalah tentang agama dan kepercayaan masyarakatnya dimana selama ini terdapat enam agama yang diakui oleh Indonesia yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindhu, Budha, dan Kong Hu Cu.. padahal seperti yang kita ketahui masih banyak agama nusantara (agama yang benar-benar berasal dari suku di nusantara) belum diakui oleh pemerintah (wikipedia) padahal itu adalah salah satu warisan yang berkaitan dengan budaya dan jati diri Indonesia di masa lampau juga masa kini. Sesungguhnya pemerintah dapat bergerak cepat dengan membuat klasifikasi khusus yang melalui analisis dengan pertimbangan budaya ataupun yang lainnya untuk memberikan kepastian agama nusantara dapat lestari atau mati. Hal tersebut adalah salah satu contoh yang dapat membuat perbedaan menjadi benar-benar berbeda dan bukan lagi Indonesia karena mereka tidak merasa dinaungi oleh Indonesia itu sendiri.. Padahal setiap perbedaan kita harus didasari bahwa kita ini satu yaitu Indonesia.
Bila melihat kebelakang sebenarnya sudah banyak tokoh-tokoh yang memahamai perbedaan Indonesia ini, mulai dari sosok minke (Raden Tirto Adi Soerjo) yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam tertralogi Buru nya bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa ganda, juga sosok seperti Gus Dur yang dianugerahi gelar bapak Pluralisme oleh Presiden SBY yang mengatakan bahwa "Demokrasi harus berdasarkan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama dan asal muasal dimuka Undang-Undang". Juga berkaca dari kutipan seorang Ahmad Wahib "Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakkan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat, Memahami manusia sebagai manusia." Maka ada satu keinginan saya untuk memleburkan semua perbedaan itu, mencari sebuah garis merah, dan memberitahukannya kepada masyarakat bahwa inilah kita.. Dan dalam kaitannya dalam ilmu yang sedang saya pelajari, saya memaksakan diri untuk membuat sebuah konsep terkait dengan Tugas Akhir dan Skripsi saya sebagai mahasiswa arsitektur yang bernama MUSEUM PLURAL. Sebuah museum yang mewadahi perbedaan Indonesia dalam hal agama, budaya yang juga terkait dengan sejarah Indonesia dalam konteks mikro wilayah dan kebudayaan setempat.
Dalam konsepnya museum ini berlokasi di sekitar area pemakaman Abdurahman Wahid di Jombang Jawa Timur yang merupakan tokoh nasional yang sangat disegani dan dihormati terkait dengan yang namanya perbedaan juga karena ada beberapa tokoh nasionalis lain seperti KH Hasyim Asyari dan KH Wahid Hasyim. Keberadaan museum ini dapat dikatakan sebagai pusat edukasi bagi masyarakat akan perbedaan agama, budaya dan sejarah Indonesia umumnya dan Kabupaten Jombang sebagai identitas lokal-mikronya. Dan dikonsepkan juga bahwa nantinya akan tedapat banyak museum serupa yang mengangkat agama, budaya, dan sejarah secara lokal kedaerahan yang akan membentuk jaring-jaring yang menceritakan dan mengedukasi masyarakat tentang keberagaman Indonesia.
Museum Plural yang berdiri di Kabupaten Jombang ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi museum plural yang lainnya. Konsep utama berdirinya museum ini diletakkan pada daerah mayoritas dimana di area pemakaman Gus Dur merupakan area berbasis Islam (Pondok pesantren Tebu Ireng) dimana diharapkan bahwa komunitas Islam dapat memberikan contoh dan menerima adanya perbedaan bagi komunitas minoritas lainnya.
Dalam konsep bangunannya sendiri diambil dari bentuk ornamen masing-masing bangunan peribadatan di Kabupaten Jombang yang juga memiliki nilai sejarah tersendiri.. yaitu Kelenteng Hong San Kiong Pura Amertha Buana, GKJW Mojowarno, Masjid Agung Baitul Mukminin dan Gereja Santa Maria. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pencarian identitas masing-masing perbedaan yang nantinya digunakan sebagai dasar dalam merancang juga sebagai sebuah bentuk simbolisasi kesamarataan antar suku-komunitas.
Untuk konsep tematik museumnya adakan ada ruang yang mewakili masing-masing agama serta kebudayaan kabupaten Jombang yang ditata sejalan dengan sejarah Kabupaten ini mulai sebagai ibukota kerajaan Medang, gerbang ibukota Majapahit, hingga menjadi sebuah Kabupaten. Dan semua ruang itu terhubung dengan satu ruang yaitu ruang Plural yang merupakan ruang kontemplasi dari berbagai macam perjalanan yang telah dilihat oleh pengunjung.. Sebuah ruang awal dan juga akhir yang menjembatani setiap perbedaan dan mengikatnya dalam satu kesatuan yang berasal dari hasil analisis berbagai macam bangunan peribadatan yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan bahwa setiap perbedaan memang sewajarnya berbeda-beda namun tetap ada satu ikatan didalamnya.. yang selama ini kita sebut Indonesia..
#1 Pluralime #2 Plural Pluralis Pluralisme #3 Museum Plural
Bila melihat kebelakang sebenarnya sudah banyak tokoh-tokoh yang memahamai perbedaan Indonesia ini, mulai dari sosok minke (Raden Tirto Adi Soerjo) yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam tertralogi Buru nya bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa ganda, juga sosok seperti Gus Dur yang dianugerahi gelar bapak Pluralisme oleh Presiden SBY yang mengatakan bahwa "Demokrasi harus berdasarkan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama dan asal muasal dimuka Undang-Undang". Juga berkaca dari kutipan seorang Ahmad Wahib "Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakkan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat, Memahami manusia sebagai manusia." Maka ada satu keinginan saya untuk memleburkan semua perbedaan itu, mencari sebuah garis merah, dan memberitahukannya kepada masyarakat bahwa inilah kita.. Dan dalam kaitannya dalam ilmu yang sedang saya pelajari, saya memaksakan diri untuk membuat sebuah konsep terkait dengan Tugas Akhir dan Skripsi saya sebagai mahasiswa arsitektur yang bernama MUSEUM PLURAL. Sebuah museum yang mewadahi perbedaan Indonesia dalam hal agama, budaya yang juga terkait dengan sejarah Indonesia dalam konteks mikro wilayah dan kebudayaan setempat.
Dalam konsepnya museum ini berlokasi di sekitar area pemakaman Abdurahman Wahid di Jombang Jawa Timur yang merupakan tokoh nasional yang sangat disegani dan dihormati terkait dengan yang namanya perbedaan juga karena ada beberapa tokoh nasionalis lain seperti KH Hasyim Asyari dan KH Wahid Hasyim. Keberadaan museum ini dapat dikatakan sebagai pusat edukasi bagi masyarakat akan perbedaan agama, budaya dan sejarah Indonesia umumnya dan Kabupaten Jombang sebagai identitas lokal-mikronya. Dan dikonsepkan juga bahwa nantinya akan tedapat banyak museum serupa yang mengangkat agama, budaya, dan sejarah secara lokal kedaerahan yang akan membentuk jaring-jaring yang menceritakan dan mengedukasi masyarakat tentang keberagaman Indonesia.
Museum Plural yang berdiri di Kabupaten Jombang ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi museum plural yang lainnya. Konsep utama berdirinya museum ini diletakkan pada daerah mayoritas dimana di area pemakaman Gus Dur merupakan area berbasis Islam (Pondok pesantren Tebu Ireng) dimana diharapkan bahwa komunitas Islam dapat memberikan contoh dan menerima adanya perbedaan bagi komunitas minoritas lainnya.
Dalam konsep bangunannya sendiri diambil dari bentuk ornamen masing-masing bangunan peribadatan di Kabupaten Jombang yang juga memiliki nilai sejarah tersendiri.. yaitu Kelenteng Hong San Kiong Pura Amertha Buana, GKJW Mojowarno, Masjid Agung Baitul Mukminin dan Gereja Santa Maria. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pencarian identitas masing-masing perbedaan yang nantinya digunakan sebagai dasar dalam merancang juga sebagai sebuah bentuk simbolisasi kesamarataan antar suku-komunitas.
Untuk konsep tematik museumnya adakan ada ruang yang mewakili masing-masing agama serta kebudayaan kabupaten Jombang yang ditata sejalan dengan sejarah Kabupaten ini mulai sebagai ibukota kerajaan Medang, gerbang ibukota Majapahit, hingga menjadi sebuah Kabupaten. Dan semua ruang itu terhubung dengan satu ruang yaitu ruang Plural yang merupakan ruang kontemplasi dari berbagai macam perjalanan yang telah dilihat oleh pengunjung.. Sebuah ruang awal dan juga akhir yang menjembatani setiap perbedaan dan mengikatnya dalam satu kesatuan yang berasal dari hasil analisis berbagai macam bangunan peribadatan yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan bahwa setiap perbedaan memang sewajarnya berbeda-beda namun tetap ada satu ikatan didalamnya.. yang selama ini kita sebut Indonesia..
* Gambar merupakan hasil ilustrasi dari tugas akhir, sedangkan ilustrasi dari Skripsi masih belum dapat dipublikasikan..
#1 Pluralime #2 Plural Pluralis Pluralisme #3 Museum Plural


Tidak ada komentar:
Posting Komentar