Bulatan tempat dimana kita berpijak.. tumbuh.. hidup.. Tempat dimana setiap makhluk (yang hidup dan mati) di dunia ini menancap.. Tempat dimana bmatahari dan bulan bersembunyi dari permainan kucing-kucingannya.. Tempat.. Sebuah tempat.. untuk pulang.. tinggal dan menetap..
Aneh.. Kau bulat.. berputar pada sebuah poros.. Yang menyebabkan aku dan temanku dibalik sana saling membelakangi, saling berketebalikan namun anehnya kami tidak jatuh.. kelangit bagian bawah.. Kau menarik kami, mempertahankan keberadaan kami dipermukaan mu.. Namun untuk apa? Agar bisa merawatmu, menjagamu, memberikanmu sebuah sketsa-sketsa perjalanan? Atau menemukan sesuatu yang kau pendam dalam-dalam?
Perasaan aneh muncul kembali ketika melihatmu terselimuti beragam karakteristik yang berbeda-beda.. Di tempatku sini kau terselimuti oleh dataran air yang luas dengan sedikit permukaan tanah yang menjulang ke atas dan kebawah jauh menusuk kedalam perutmu. Ditempat lain kau berupa padang rerumputan yang ternaungi oleh pepohonan yang enggan untuk hidup.. tak jauh dari sana kau juga tertutupi oleh bilyunan milyar juta partikel halus bernama pasir yang katanya dapat menghisap manusia dan dapat membuat keributan luar biasa dengan badainya.. Ya tentu saja.. bagaimana pedihnya mata ini jika harus dimasuki ribuan partikel itu padahal segumpal saja sudah minta ampun. Juga pada satu sisi dimana kau terselimuti benda putih lembut nan kecil yang selalu ingin kujilat dan membuat istana salju. Kau juga pasti tahu bhwa kutubmu yang sangat dingin itu ternyata adalah bongkahan es yang luar biasa besarnya.. yang terus ikut menjaga keseimbangan suhu tubuhmu, meskipun kini sedikit demi sedikit sudah mulai meleleh.. Namun aku tahu bentuk sesungguhnya darimu adalah tak jauh dariku yaitu tanah.. begitulah aku menyebutnya..
Bumi, apakah kau tahu.. dalam sebuah aliran keimanan (agama) menyebutkan bahwa zat penyusunmu .. tanah .. adalah molekul pembentuk tubuh ini, tubuhku. Padahal kau tau kita ini tak ada mirip-miripnya bukan? Namun kau tau bahwa kami juga memiliki karakteristik yang berbeda, pigmen kami seperti permukaanmu yang berbeda-beda. Jika kau punya air, hutan es, salju, pasir dan lain-lain kulit kami berbeda pula, meskipun sebatas warna mulai putih, kuning, coklat hingga hitam yang tak jauh dari warna tanahmu yang sesungguhnya. Apa kau juga tau bahwa nanti ketika aku mati, aku akan melebur menjadi satu denganmu dan menginjeksikan kebusukanku yang nantinya akan kau netralisir dan kau transformasikan menjadi sumber mineral bagi kehidupan yang lain. Hingga mati pun aku hanya bisa memberikan kebusukan, kerusakan pada kau, juga pohon dan dengan bijaksananya kalian melalui sebuah siklus mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk lain.. termasuk pada kaumku.. Ya.. mati.. Sebuah keadaan dimana semua indra ini tak dapat berfungsi lagi dan tak mampu menikmati keindahan yang kalian sajikan.. Saat dimana kaki ini tak lagi dapat menginjakmu, saat mata dilingkupi kegelapan yang sangat dan dapat menelan hidup ini.. juga jiwa yang tau entah akan kemana..
BUMII... Jangan biarkan aku mati dulu.. jangan kau uraikan aku untuk makhluk yang lain.. hingga saatnya nanti.. aku masih ingin menaiki setiap pucukmu (pucuk..pucuk..pucuk..) menuruni setiap kegelapanmu, melihatmu marah dan menyemburkan segala apa yang ada dalam perutmu melalui corong-corong di pucuk itu dengan cairan merah padat yang menyala yang siap membakar setiap mereka yang berani menentangmu. Gelegar itu, bunyi memekakkan yang sefrekuensi dengan gelombang petir, backsound yang membuat manusia terpengarah dengan mata tajam melihat corongmu, hingga diakhiri panik dan pelarian diri agar tidak kau lebur. Juga kumpulan awan hitam coklat keabuan seperti jamur yang mekar dan siap bersemburat menghujani setiap kulitmu yang kami rusak demi sebuah hunian.. tempat berlindung dari mu.. Setakut itu kami padamu hingga dengan bodohnya membuat tempat diatasmu untuk melindungi diri darimu.. coba kami dapat menyelaraskan diri ini dan membuat rumah yang seirama denganmu..
Bumi kau memang menakutkan.. namun entah kenapa bersamamu seakan ada sebuah petualangan yang menunggu bukan hanya ketika aku hidup juga ketika aku mati dan bertrasnformasi menjadi sesuatu yang lain mungkin juga menjadi partikel terkecil yang kau larungkan di samuderamu..















Tidak ada komentar:
Posting Komentar