Jogjakarta.. Tak peduli berapa kali kesana kaki ingin selalu ingin kembali kesana, entah kenapa namun bila berada di Jogjakarta seakan eksplorasi tak pernah mau berhenti.. terus berkeliling.. mengitari sampai satu titik dimana otot diseluruh badan memboikot pergerakan ini.. Namanya juga suka.. apapun pasti dilakukan sekalipun itu nggak ngapa-ngapain..
Dua kali sudah dalam kurun waktu kurang dari empat bulan aku (kami) menghampiri Jogjakarta.. asal kalian tau saja, berkunjung ke sebuah kota bukanlah kesukaan kami.. namun Jogja telah berhasil membuat kami kembali kesana.. Memang ada misi terselubung dari masing-masing individu ini mulai dari survey, sekedar jalan-jalan ataupun ingin mengejutkan seseorang disana (sayangnya nggak kesampaian.. dua kali..) Namun misi utama kami adalah adalah ArtJog.. sebuah kompetisi sekaligus pameran hasil karya seni anak bangsa yang rutin digelar di Jogjakarta.. kali ini temanya legacies of power.. Saya sendiri sebenarnya hanya bisa oret-oret kertas dan nggak begitu tau seni.. hanya saja ketika melihat hal-hal "nyeni" saya jadi penasaran.. dan takjub.. Jurusan arsitektur ini seperti kedok, pencarianlah.. cocok ya dijalani.. hingga akhir-akhir selalu berpikir ulang untuk menjadi seorang arstitek.. haha.. (Tapi saya belum menyerah dengan arsitektur, dan nggak bakal menyerah..)
Dan menurut saya antara anak arsitek-seni-dkv (desain komunikasi visual) itu hampir mirip lah mulai tuntutannya, apa yang dibuat dan bagaimana kami membuat sebuah karya. Bedanya kalo anak seni medianya minimal kanvas, anak dkv minimal laptop, anak arsitek minimal tanah seluas 2x2 untuk sebuah shelter (baca: pos kampling). Namun semuanya sama berawal dari sebuah ide yang dicorat-coret di kertas. Dan saya juga merasa risih dengan kata banyak orang yang seakan meremehkan jurusan kami yang katanya hanya bisa nggambar-nggambar dan nggambar, banyak yang bisa melakukan hal itu, mainannya anak kecil kek, jurusan buangan lah.. Lebih baik anda lihat sendiri bagaimana perjuangan kami dengan kertas-kertas kami sebelum anda nyerocos tak terkendali. (Belum pernah kalian mikir ruwetnya jaringan listrik buat bangunan 7 lantai, apalagi Burj Dubai dan Burj Khalifa.. Juga gimana sistem konstruksinya rumah minang, atau bahkan gimana melestarikan joglo yang digerus jaman).. Balik ke awal..
Dan menurut saya antara anak arsitek-seni-dkv (desain komunikasi visual) itu hampir mirip lah mulai tuntutannya, apa yang dibuat dan bagaimana kami membuat sebuah karya. Bedanya kalo anak seni medianya minimal kanvas, anak dkv minimal laptop, anak arsitek minimal tanah seluas 2x2 untuk sebuah shelter (baca: pos kampling). Namun semuanya sama berawal dari sebuah ide yang dicorat-coret di kertas. Dan saya juga merasa risih dengan kata banyak orang yang seakan meremehkan jurusan kami yang katanya hanya bisa nggambar-nggambar dan nggambar, banyak yang bisa melakukan hal itu, mainannya anak kecil kek, jurusan buangan lah.. Lebih baik anda lihat sendiri bagaimana perjuangan kami dengan kertas-kertas kami sebelum anda nyerocos tak terkendali. (Belum pernah kalian mikir ruwetnya jaringan listrik buat bangunan 7 lantai, apalagi Burj Dubai dan Burj Khalifa.. Juga gimana sistem konstruksinya rumah minang, atau bahkan gimana melestarikan joglo yang digerus jaman).. Balik ke awal..
Perjalanan pertama kami adakan pada akhir februari.. bertepatan dengan seminar ArtJog yang di (bertepatan?) oleh FX Harsono dan Titarubi.. yang cowok saya taunya dari BlackInnovation yang ternyata juga seniman yang terkenal di Indonesia, cuman yang satu terus terang saya nggak tau, dan setelah cari tau ternyata beliau juga telah melalang buana di dunia. Mereka bicara penggunaan data dan riset dalam seni, sebagai anak arsitek tentu saja hal itu adalah wajib hukumnya sebuah pegamatan, data dan riset sebelum merancang.. itu landasan bagi kami dalam berkarya.. Jadi sedikit banyak waktu seminar saya manggut-manggut seakan paham. Selebihnya yang saya lakukan selain membaca materi adalah memperhatikan orang-orang nyeni yang hadir dengan tindiknya, ada juga yang berambut gimbal, dan manusia wajar lainnya serta si gadis kacamata dengan bibirnya yang merah. Dan pada akhirnya saya merasa mencukupkan diri dan memilih untuk keluar menikmati Jogjakarta di waktu malam.. Dan akhirnya hari selanjutnya disibukkan dengan petualangan di Gunung Kidul.. Yang pada akhirnya berujung dengan ungkapan bahwa mungkin kami harus submit sebuah karya, atau paling tidak akan hadir lagi di saat pamerannya.
Lalu beberapa bulan berlalu tanpa sebuah karya seni dan tetap sibuk dengan kuliah serta nggak ngapa-ngapain tentunya..
Hingga 5 hari sebelum puasa ramadhan janji gila itu muncul kepemukaan dan memaksa kami untuk saat itu juga berangkat, tanpa persiapan, berbekal 2-3 potong pakaian, serta satu byson dan satu jupiter mx kami berempat (2 personil lama-2 personil baru) tancap gas ke Jogja pukul 6 pagi tepat dari Malang dan sampai Jogja tepat pukul 6 sorenya. Sungguh perjalanan yang tidak pernah diduga.. Malang-Kediri-Nganjuk (Saradan dan berbagai kenangannya)-Madiun-Ngawi-Surakarta-Klaten-Jogja hanya direncanakan dalam satu malam.. Sungguh perjalanan yang luar biasa yang cukup membuat kami segera terpulas hingga esok paginya setalah berkeliling Jogja beberapa kali tentunya.. Besoknya jelas.. Jam 9 pagi udah diloket ArtJog beli tiket dan senyam-senyum sama adek-adeknya (saya kira mereka kebanyakan maba, sedangkan status saya udah nyampe skripsi) biar nggak dikira gelandangan dengan niat buruk.. Hingga tiga jam lebih kami di dalam, tingak-tinguk.. liat ini itu.. pinjam kursi adek-adek buat duduk dan melepas kram, takjub akan keteliatiann mereka, ide yang aneh yang juga nggak banyak saya pahami.. beberapa karya ada di bawah ini:
Yang terakhir ini yang membuat saya kagum.. kreatif.. sederhana.. bagus.. penuh makna.. karya Edwin Pradipta dengan berjudul Liquefaction of Mool yang berhasil menjadi juara dua
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa saya hanya senang coret-coret, dan berlama-lama di karya orang lain entah takjub nggak ngerti bingung, bahagia.. entahlah yang penting itu bagus menurut saya..
Dan perjalanan tak terduga ini usai diakhiri dengan kaliurang bagian puncak dimalam yang rintik-rintik dengan se poci teh poci dan susu hangat.. Hingga besoknya lagi mengharuskan kami untuk meninggalkan Jogjakarta untuk kembali ke Gunung Kidul-Pacitan-Trenggalek-Tulungagung-Blitar-Malang.. menyaksikan samudera bertemu dengan langit dari perspektif yang lain..
Lalu beberapa bulan berlalu tanpa sebuah karya seni dan tetap sibuk dengan kuliah serta nggak ngapa-ngapain tentunya..
Hingga 5 hari sebelum puasa ramadhan janji gila itu muncul kepemukaan dan memaksa kami untuk saat itu juga berangkat, tanpa persiapan, berbekal 2-3 potong pakaian, serta satu byson dan satu jupiter mx kami berempat (2 personil lama-2 personil baru) tancap gas ke Jogja pukul 6 pagi tepat dari Malang dan sampai Jogja tepat pukul 6 sorenya. Sungguh perjalanan yang tidak pernah diduga.. Malang-Kediri-Nganjuk (Saradan dan berbagai kenangannya)-Madiun-Ngawi-Surakarta-Klaten-Jogja hanya direncanakan dalam satu malam.. Sungguh perjalanan yang luar biasa yang cukup membuat kami segera terpulas hingga esok paginya setalah berkeliling Jogja beberapa kali tentunya.. Besoknya jelas.. Jam 9 pagi udah diloket ArtJog beli tiket dan senyam-senyum sama adek-adeknya (saya kira mereka kebanyakan maba, sedangkan status saya udah nyampe skripsi) biar nggak dikira gelandangan dengan niat buruk.. Hingga tiga jam lebih kami di dalam, tingak-tinguk.. liat ini itu.. pinjam kursi adek-adek buat duduk dan melepas kram, takjub akan keteliatiann mereka, ide yang aneh yang juga nggak banyak saya pahami.. beberapa karya ada di bawah ini:
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa saya hanya senang coret-coret, dan berlama-lama di karya orang lain entah takjub nggak ngerti bingung, bahagia.. entahlah yang penting itu bagus menurut saya..
Dan perjalanan tak terduga ini usai diakhiri dengan kaliurang bagian puncak dimalam yang rintik-rintik dengan se poci teh poci dan susu hangat.. Hingga besoknya lagi mengharuskan kami untuk meninggalkan Jogjakarta untuk kembali ke Gunung Kidul-Pacitan-Trenggalek-Tulungagung-Blitar-Malang.. menyaksikan samudera bertemu dengan langit dari perspektif yang lain..

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar