Hamparan berwarna biru, terkadang hijau.. bukan yang biasa disebut rumput namun terdiri dari zat yang tak berbentuk padat yang dapat membuat kita melayang, juga tenggelam masuk ke dalamnya.. air nama zat itu.. Sungguh aneh, sesuaru yang dapat disentuh namun tak dapat digenggam, memiliki rupa tapi tak berbentuk, bening tak berwarna pasti, bergantung pada zat yang mengendalikannya..Dan besatu padu pada sebuah tempat dimana setiap air yang mengalir di muka bumi ini berlabuh.. itulah kau samudera..
Menatap jauh pada sebuah garis horizon yang seakan mempertemukan langit denganmu samudera.. berdiri di sebuah pucuk karang yang tandas dengan menguatkan hati akan keganasan deburan ombakmu yang memekakkan setiap nyali.. tiupan angin yang kau hembuskan dengan keras, terus-menerus hingga menghilangkan setiap aliran kehangatan dari dalam tubuh.. duduk bersimpuh pada jutaan butiran kecil yang membelai permukaan kulit seraya ingin membuatku terlupa tentang segala macam rasa yang membelenggu untuk berdiam sejenak mengakui kepolosan hati.. ketelanjangan jiwa.. bebas..
Ombakmu yang membumbung tinggi incaran setiap manusia dengan jiwa yang haus akan ketakutan, dimana dikala terlalu tinggi membuat mereka yang hidup dipesisir akan lari tunggang langgang, traumatis dengan gelombang besarmu akibat lempeng bumi yang sedang berelaksasi hingga muncul gelombang besar bernama Tsunami. Terlalu tinggi yang dapat membuat juluranmu yang membuat bumi semula penuh dengan "sampah" kreasi manusia menjadi kembali mulus memperlihatkan kulit bumi yang asli. gatal mungkin, dan tsunami adalah caramu dan bumi menggaruknya. Bersantailah sejenak samudera, untuk sesaat..
Hei, samudera ini sebenarnya bukan hanya tentangmu, namun juga tentang air yang jatuh dari langit, air-air yang tertampung pada cekungan bumi, air yang mengalir di sungai, got, kali dan apapun namanya menuju padamu untuk kembali tersengat matahari yang akan membuatnya mereka terangkat ke langit dan sekali lagi bersiklus.. Sebuah siklus yang dapat membuat kau dan aku terus hidup..
Samudera.. aku ingin berbagi sebuah kisah denganmu.. tentang asalku.. tanah air yang mereka namakan Indonesia juga terkadang Nusantara.. Dua nama itu memiliki satu kesamaan samudera.. Indo(Hindu/Hindia)-Nesia(Pulau), Nusa(Pulau)-Antara(luar). Kau tau nama ini mengandung kata pulau yang memang tidak hanya satu pulau namun 17.508 pulau yang terdaftar. Dan itu semua disatukan oleh mu samudera, bisa kau bayangkankan luasmu adalah dua kalih lebih besar dari 17.508 pulau itu? Bisa kau bayangkan betapa melimpahnya airmu di wilayah ini.. Namun jangan kau sangka kami dapat menggunakannya dengan leluasa, sebagian dari kami masih harus berjalan hingga berkilo-kilo meter dengan memanggul ember dan jirigen demi mendapatkan air.. Berat bukan perjuangan sebagian dari kami itu untuk menikmati kesegaranmu.. Bukan salahmu memang, ini karena murni kelalaian kami terutama mereka yang berada di atas yang senang menhamburkan airmu demi uang, menyedot habis sumber mata air hanya untuk kesenangan segumpil orang saja. Dunia memang berketerbalikan kawan, sebagian dari kami yang lain tidak pernah kesulitan air, tidak pernah kami merasakan berjalan sekian jam hanya untuk mendapatkan air. Justru biasanya kelebihan dan berlebihan. Pernah aku berpikir untuk memberikan kepada sebagain mereka yang ada disana, namun bagaimana caranya? Membiarkan matahari menyengatnya agar dapat diturunkan diseberang sana? Tidak semudah itu samudera, tidak pernah sesederhana itu, begitu pula dengan teknologi manusia. Kau pikir teknologi kami ini baik semuanya? Banyak diantara saudaramu (sungai) sedang sekarat dan tidak dapat lagi mengalirkan air kepadamu karena limbah teknologi kami. Dia yang semula jernih, segar dan dingin kini berubah menjadi saluran sampah dengan warnanya yang hitam pekat dan bau busuk menyengat penuh dengan hasil kreatifitas manusia yang tidak peduli akan siklusmu.
Kau pun mungkin juga sudah tau bahwa sumber airmu di darat mulai menyusut, mata air-mata air itu kini hanya tinggal beberapa di pucuk corong-corong bumi. Cekungan-cekungan yang semula penuh dan siap mengaliri seiap sawah dan mentransformasikannya menjadi energi listrik kini mulai mengering, sebagain juga jebol karena rekayasa manusia yang tak sempurna dan sudah dimakan oleh jaman tanpa sebuah perawatan yang jelas. Semua itu belum lagi ditambahkan dengan kegagalan manusia secara sistemik yang kami sebut Global Warming sehingga membantu mempercepat keringnya sumber airmu di kutub sana.
Kau juga pasti sudah tahu bahwa kaumku yang tinggal berdampingan dengan beralaskan pantaimu pun setengah mati mencari air. Sudah mereka coba sebuah proses destilasi untuk memisahkan rasa asinmu yang getir namun tak pernah bisa senikmat air hasil kolaborasimu dengan matahari dan awan dan juga mereka yang bersembunyi diperut bumi sehingga membuat kaumku pada ujung-ujungnya pasrah kepada langit untuk segera menggelar pertunjukan hujannya. Pernah juga ada sebuah teknologi yang dapat menyaring airmu hingga skala mikroskopis yang dapat membuat air yang semula kotor itu menjadi jernih dan dijamin juga bahwa bakteri serta virusnya menghilang namun aku tidak bisa sepertimu yang bisa menerima dan memasukkan rupa air seburuk apapun serta menjadikannya bagian darimu samudera, bagaimana mungkin aku dan tubuh serta organ didalamnya ini dapat menerima air yang semula gelap itu, melihat wujud sebelumnya saja sudah membuatku mual. (bagaimana bisa aku berkata mual untuk sesuatu yang selaiknya darah dagingmu itu, maafkan aku samudera)
Kau tau kami manusia sebenarnya bisa menjaga dan melestarikan airmu itu, bumi ini tak hanya berumur 2000 tahun sejauh masehi menghitung apalagi hijriah namun lebih lama dari itu dan terus ada hingga sekarang.. Dan beberapa tahun belakang manusia memulai industrialisasi dengan sangat murka sehingga melepas semua batas-batas yang seharusnya tidak bersinggungan denganmu dan kawanmu. Sehingga kau juga dengan airmu sebagai sumber kehidupan dan sumber daya yang tak terbatas semakin tak terhiraukan dan terksploitasi secara besar-besaran hingga kini mulai kesakitan yang sangat.
Samudera.. entah bagaimana kami bisa memperbaiki siklusmu itu.. siklus kehidupanmu, juga kehidupan kami.. Sejauh ini telah banyak usaha yang kami lakukan demi usaha perbaikan dan pencegahan agar kau juga bumi dapat kembali sehat. Reboisasi, Permakultur, Pegembalian kantong-kantong air di wilayah manusia, pembersiahan sungai, perbaikan dan pengerukan waduk., rekayasa iklim, hingga mencanangkan perilaku hijau bagi manusia mulai tidak membuang sampah ke sungai, pengolahan sampah terpadu agar tidak menkontaminasi airmu, hingga pembuatan biogas semua itu untuk menjagamu dan mengembalikan kesehatanmu. Juga Fitoteknologi sebuah metode penyaringan air menggunakan tanaman air agar airmu kembali jernih juga aquakultur sebuah cara menanam tanaman dengan media air, hingga sebuah minapolitan yaitu bersandingnya pemukiman kami denganmu demi sebuah keberhasilan bersama juga semata-mata untuk mendampingimu, menjagamu dan dengan segala upaya untuk mengembalikanmu seperti semula.
Ada sebuah keinginan dan konsep untuk membuat kita semua saling bergotong royong untuk kepentingan kita bersama, untuk siklusmu, juga untuk menjaga kelangsungan hidupku, yang aku gambarkan sebagai berikut:
Sketsa ini adalah sebuah konsep untuk menjaga kehidupanmu, juga kehidupanku.. Dan hanya bisa terjadi jika kami manusia dengan sadar dan rendah hati menerima bahwa kamiajuga bagian dari alam raya ini.. Hanya bisa terjadi ketika kami manusia mau berusaha terus memperbaiki semua kesalahan kami pada alam dimana kalian semua terus bekerja dan bersiklus menjaga keseimbangan semuanya.
Kawan.. satu hal yang kusesalkan sampai saat ini adalah ketidakmampuanku menaklukkanmu atau mungkin kebersamaan denganmu.. jangankan kau samudera.. kerabatmu yang kami sebut sungai pun tak mampu kukalahkan.. padahal kau tau aku sangat suka menginjak bumi.. juga membuat pohon merasakan beratnya badanku.. namun ketika melihatmu dan kerabatmu dengan airnya itu aku menciut.. Butuh teknik khusus meskipun hanya sekedar untuk melihat kedalamanmu yang hingga kini tak dapat kukuasai.. Jangan kau tertawa.. mungkin suatu hari nanti aku mampu menguasainya maka aku akan mengarungimu, membuatmu merasakan betapa asinnya peluh tubuh ini..
Hei Samudera, terkadang aku berpikir betapa menakutkannya dirimu (terlepas dari ketidakbisaanku berenang).. dengan ombakmu juga bantuan angin dan langit kau kreasikan seuah badai ditengah permukaanmu. Kau permainkan perahu-perahu seperti aku mempermainkan gundu, melempar kesana-kemari, menabrakkan satu sisi dengan lainnya hingga banyak dari kami karam merasakan dingin dan gelapnya tubuhmu.. seakan ingin menegaskan tentang kekuasaanmu bahwa ini adalah engkau yang bukan untuk kami permainkan, eksploitasi dan memperingatkan bahwa sebaiknya kami tak beranjak dari daratan.
Aku juga merasakan sebuah sensasi ketika mengecap keindahan kolaborasimu dengan sang matahari, menjaelang menghilangnya di pada batas pandang pada satu garismu. Jingga langit dan matahari kau pancarkan kembali dalam sebuah refleksi spektrum cahaya yang saling berpendar dalam sebuah permainan waktu yang kembali membuat mata, otak dan hati tertegun sejenak.. menikmati keindahanmu yang sangat.. menerima kenyataan akan ketidaak mampuanku ini..
Dan kau juga tau tak ku sangka kau juga merupakan pelindung yang sangat baik dengan keaneka ragaman hayati yang kau wadahi dalam perutmu.. tempat dimana karangdan terumbunya, koloni ikan dengan berbagai macam ukuran yang ternaungi dalam sebuah gradisi biru-hijau--hitam.. Belum lagi dengan sulapmu kau jadikan mereka yang karam tadi menjadi sebuah rumah baru makhluk yang kau naungi itu. Dan semua itu selalu menjadikan magnet yang kuat untuk selalu mengujungimu dan memandangi dengan tanpa jemu.
Kau pun mungkin juga sudah tau bahwa sumber airmu di darat mulai menyusut, mata air-mata air itu kini hanya tinggal beberapa di pucuk corong-corong bumi. Cekungan-cekungan yang semula penuh dan siap mengaliri seiap sawah dan mentransformasikannya menjadi energi listrik kini mulai mengering, sebagain juga jebol karena rekayasa manusia yang tak sempurna dan sudah dimakan oleh jaman tanpa sebuah perawatan yang jelas. Semua itu belum lagi ditambahkan dengan kegagalan manusia secara sistemik yang kami sebut Global Warming sehingga membantu mempercepat keringnya sumber airmu di kutub sana.
Kau juga pasti sudah tahu bahwa kaumku yang tinggal berdampingan dengan beralaskan pantaimu pun setengah mati mencari air. Sudah mereka coba sebuah proses destilasi untuk memisahkan rasa asinmu yang getir namun tak pernah bisa senikmat air hasil kolaborasimu dengan matahari dan awan dan juga mereka yang bersembunyi diperut bumi sehingga membuat kaumku pada ujung-ujungnya pasrah kepada langit untuk segera menggelar pertunjukan hujannya. Pernah juga ada sebuah teknologi yang dapat menyaring airmu hingga skala mikroskopis yang dapat membuat air yang semula kotor itu menjadi jernih dan dijamin juga bahwa bakteri serta virusnya menghilang namun aku tidak bisa sepertimu yang bisa menerima dan memasukkan rupa air seburuk apapun serta menjadikannya bagian darimu samudera, bagaimana mungkin aku dan tubuh serta organ didalamnya ini dapat menerima air yang semula gelap itu, melihat wujud sebelumnya saja sudah membuatku mual. (bagaimana bisa aku berkata mual untuk sesuatu yang selaiknya darah dagingmu itu, maafkan aku samudera)
Kau tau kami manusia sebenarnya bisa menjaga dan melestarikan airmu itu, bumi ini tak hanya berumur 2000 tahun sejauh masehi menghitung apalagi hijriah namun lebih lama dari itu dan terus ada hingga sekarang.. Dan beberapa tahun belakang manusia memulai industrialisasi dengan sangat murka sehingga melepas semua batas-batas yang seharusnya tidak bersinggungan denganmu dan kawanmu. Sehingga kau juga dengan airmu sebagai sumber kehidupan dan sumber daya yang tak terbatas semakin tak terhiraukan dan terksploitasi secara besar-besaran hingga kini mulai kesakitan yang sangat.
Samudera.. entah bagaimana kami bisa memperbaiki siklusmu itu.. siklus kehidupanmu, juga kehidupan kami.. Sejauh ini telah banyak usaha yang kami lakukan demi usaha perbaikan dan pencegahan agar kau juga bumi dapat kembali sehat. Reboisasi, Permakultur, Pegembalian kantong-kantong air di wilayah manusia, pembersiahan sungai, perbaikan dan pengerukan waduk., rekayasa iklim, hingga mencanangkan perilaku hijau bagi manusia mulai tidak membuang sampah ke sungai, pengolahan sampah terpadu agar tidak menkontaminasi airmu, hingga pembuatan biogas semua itu untuk menjagamu dan mengembalikan kesehatanmu. Juga Fitoteknologi sebuah metode penyaringan air menggunakan tanaman air agar airmu kembali jernih juga aquakultur sebuah cara menanam tanaman dengan media air, hingga sebuah minapolitan yaitu bersandingnya pemukiman kami denganmu demi sebuah keberhasilan bersama juga semata-mata untuk mendampingimu, menjagamu dan dengan segala upaya untuk mengembalikanmu seperti semula.
Ada sebuah keinginan dan konsep untuk membuat kita semua saling bergotong royong untuk kepentingan kita bersama, untuk siklusmu, juga untuk menjaga kelangsungan hidupku, yang aku gambarkan sebagai berikut:
Sketsa ini adalah sebuah konsep untuk menjaga kehidupanmu, juga kehidupanku.. Dan hanya bisa terjadi jika kami manusia dengan sadar dan rendah hati menerima bahwa kamiajuga bagian dari alam raya ini.. Hanya bisa terjadi ketika kami manusia mau berusaha terus memperbaiki semua kesalahan kami pada alam dimana kalian semua terus bekerja dan bersiklus menjaga keseimbangan semuanya.
Kawan.. satu hal yang kusesalkan sampai saat ini adalah ketidakmampuanku menaklukkanmu atau mungkin kebersamaan denganmu.. jangankan kau samudera.. kerabatmu yang kami sebut sungai pun tak mampu kukalahkan.. padahal kau tau aku sangat suka menginjak bumi.. juga membuat pohon merasakan beratnya badanku.. namun ketika melihatmu dan kerabatmu dengan airnya itu aku menciut.. Butuh teknik khusus meskipun hanya sekedar untuk melihat kedalamanmu yang hingga kini tak dapat kukuasai.. Jangan kau tertawa.. mungkin suatu hari nanti aku mampu menguasainya maka aku akan mengarungimu, membuatmu merasakan betapa asinnya peluh tubuh ini..
Hei Samudera, terkadang aku berpikir betapa menakutkannya dirimu (terlepas dari ketidakbisaanku berenang).. dengan ombakmu juga bantuan angin dan langit kau kreasikan seuah badai ditengah permukaanmu. Kau permainkan perahu-perahu seperti aku mempermainkan gundu, melempar kesana-kemari, menabrakkan satu sisi dengan lainnya hingga banyak dari kami karam merasakan dingin dan gelapnya tubuhmu.. seakan ingin menegaskan tentang kekuasaanmu bahwa ini adalah engkau yang bukan untuk kami permainkan, eksploitasi dan memperingatkan bahwa sebaiknya kami tak beranjak dari daratan.
Aku juga merasakan sebuah sensasi ketika mengecap keindahan kolaborasimu dengan sang matahari, menjaelang menghilangnya di pada batas pandang pada satu garismu. Jingga langit dan matahari kau pancarkan kembali dalam sebuah refleksi spektrum cahaya yang saling berpendar dalam sebuah permainan waktu yang kembali membuat mata, otak dan hati tertegun sejenak.. menikmati keindahanmu yang sangat.. menerima kenyataan akan ketidaak mampuanku ini..
Dan kau juga tau tak ku sangka kau juga merupakan pelindung yang sangat baik dengan keaneka ragaman hayati yang kau wadahi dalam perutmu.. tempat dimana karangdan terumbunya, koloni ikan dengan berbagai macam ukuran yang ternaungi dalam sebuah gradisi biru-hijau--hitam.. Belum lagi dengan sulapmu kau jadikan mereka yang karam tadi menjadi sebuah rumah baru makhluk yang kau naungi itu. Dan semua itu selalu menjadikan magnet yang kuat untuk selalu mengujungimu dan memandangi dengan tanpa jemu.
*Samudera kuharap kau mau memaafkan kami dan tetap mempertahankan siklusmu yang tak dapat digantikan oleh siapapun karena kaulah ibu dari semua air yang merupakan sumber kehidupan manusia ini..










Tidak ada komentar:
Posting Komentar