Dimalam itu seekor kucing dengan perut yang besar menghampiriku, dan dia mengeong.. Tak kuperhatikan bulu belang tiga warnanya dan kutinggalkan saja dia sendiri disana..
Keesokannya kucing itu sudah menjadi induk. Tanpa proses persalinan hidup dan mati yang ku ketahui terlihat dua ekor anak yang bergenre betina, belang kuning hitam dan belang kuning putih.. Yang terakhir sekilas mmengingatkanku pada Rocky (Sushi) kucing yang dulu pernah menjadi bagaian dari keluargaku.. Kubiarkan mereka saling berkasih sayang menjilat satu sama lain dan sepertinya kehadiranku pun tidak terpedulikan oleh keluarga kecil ini..
Selang beberapa hari mulai terdengar suara desisan lirih, etalase yang selama ini menyimpan berbagai barang bekas ini mempunyai penghuni baru, dan tanpa meminta ijin pada kami porak-porandalah berbagai barang yang tersimpan rapi disana oleh induk dan kedua anaknya itu..
Kesibukan mengharuskan aku tidak bertemu mereka beberapa minggu.. dan dua anak kucing ini telah berlarian.. kesana kemari, saling meraung dan menancapkan cakar kasih sayangnya di tubuh masing-masing. Sebuah komunikasi tanpa ada kepura-puraan antar saudara, tanpa bicara dan hanya melalui aksi-perbuatan yang sederhana namun tepat pada tempatnya.. daripada mereka yang biasa berpura-pura untuk menyenangkan oorang lain..
Waktu berlalu dan sang induk sudah jarang pulang mengunjungi kedua anaknay.. sekali pulang dimulutnya terdapat ikan yang besar untuk santapan anak-anaknya.. Yaa memang kasih ibu sepangjang jalan.. namun belakangan baru kuketahui bahwa dang induk menghilang sedang bersama dengan kekasihnya yang baru.. mungkin juga rasa yang lama terpendam dan muncul lagi pada induk ini dan seakan mempercayakan dan membiarkan anak-anaknya dipangkuan kami.. Sedang sang ayah, hanya sekali aku melihatnya mungkin dalam sebuah perjalanan dan tidak sengaja melihat anak-anaknya. Dia datang membaui anaknya seakan memastikan bahwa mereka memang benar-benar anaknya dan pada akhirnya hanya pergi lagi.. namun mereka tidak lagi peduli dan tetap berlari-lari dari hari ke hari.. minggu ke minggu..
Keadaan membuat aku kembali keluar kota dan mungkin sudah sekitar 3 bulan lebih sejak mereka lahir aku tak lagi mendapati mereka berdua disini.. Sudah tidak kulihat lagi kepanikan ikan koki di kolam halaman karena kaisan cakar dan kaki mereka dipermukaan kolam, tak lagi kulihat tatapan tajam mereka pada ikan-ikan di akuarium yang berlari kesana kemari. Tidak lagi kulihat mereka tercengang akan bayangannya sendiri..Dan tak lagi kudengar desis-desis bahagia mereka.. Mungkin mereka sudah menemukan kesenangan di dunia ini..
Waktu terus berjalan, kesibukanku hanya memperbolehkan aku pulang diakhir pekan dalam beberapa minggu.. Dan di malam yang tenang ini kau datang.. "Hai kucing putih kuning, bagaimana kabarmu?" Tanpa menjawab kau menatapku tajam.. Dan isyarat itu cukup membuat aku berlari kedalam dan mengambil sepotong ikan.. "Aku tau kau lapar, dimana saudara si belang hitam?" Tanpa menjawab kau geliatkan badanmu pada kakiku berputar kesana-kemari, rasanya bau ikan sudah memenuhi lubang hidungmu.. "Yaa.. kau tidak perlu menjadi kucing penjilat hanya karena kau lapar, tidak usalah kau jual tubuhmu seperti itu, aku bukan seseorang yang baru kau kenal kemarin kan, makanlah ini". Tanpa melihatku lagi kau berangus ikan itu, gemeletak tulang dan duri ikan itu terdengar ke telingaku.. Namun ditengah kau kunyahanmu kau nampak kesakitan ,mulutmu mendesis, liurmu berjatuhan, Tak kusangka duri itu menusuk langit-langit mulutmu.. Perlahan kubuka mulutnya, mencoba meraih duri itu kubalik badanya dan untunglah jatuh juga duri itu dari mulutnya.. "Sekejam itu dunia ini memperlakukanmu teman kecil? Hingga kau kelaparan dan tak lagi dapat mengatur tempo makanmu hingga bahkan duri itupun ikut mempersulit hidupmu?" Kucing ini tak lagi menjawab dan kembali meneruskan makannya yang tertunda.. sekalian pula ia menggeretak duri yang tadi menyakitinya, balas dendam mungkin.. Selesai makan dia kembali pada aktivitasnya dulu menatap tajam kawanan ikan di akuarium dan tak lama dia tertidur.. Malang sekali kau teman kecil, tanpa banyak kasih sayang orang tuamu kini kau harus menjalani kehidupan yang tidak juga baik kepadamu.. sendiri. Tidakkahkau kesepian? entah dimana saudaramu, ibumu, dan ayahmu dan kau mengarungi dunia ini sendiri.. belum genap juga setahunkau terlahir.. setengahnya saja belum. Tidak takutkah kau sekarat ditengah jalan tanpa ada seorangpun yang memperdulikanmu? Kini tak lagi sebuah desis dan raung dari mulutmu, apakah mulutmu sudah penuh merasakan berbagai kekotoran yang ada didunia ini dan membuat kau tak lagi dapat bersuara? Melihatmu sendiri tanpa sekutu menjelajah demi kelangsungan hidup seakan mengingatkanku pada shusi dan tragedi yang menghilangkan nyawanya karena dunia yang kejam ini, terlebih kau adalah betina. Kurang cukupkan apa yang kami berikan padamu? Apakah sebesar itu keingin tahuanmu pada dunia? Dan seingin bebas itukah dirimu?
Seakan mendengar suara dia terbangun, menggerakkan telinganya, menguap, merenggangkan ototnya dan berjalan menghilang dibalik pekatnya malam..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar