Watch out

Watch out

Awal - Mula (Siapa Aku?)

Siapa-Apa Aku?
Mengapa aku hidup? Di dunia ini?


AWALNYA..
Aku terlahir di dunia ini sebagai manusia, tanpa tahu menahu apa yang harus aku lakukan, tanpa tahu apa-apa. Yang aku tahu hanya kata mereka.. dan kata mereka karena ketidak tahuanku mereka bilang aku bodoh. Kata mereka lagi manusia itu makhluk sempurna ciptaan-Nya. Namun kata mereka yang lain lagi aku hanya seonggok daging yang menambah kerumitan dunia ini, merusaknya, menghancurkan dengan cara baik dan perlahan serta berbagai macam hal buruk lainnya.. Ya saya memang bodoh, saya tidak tahu dan dengan demikian saya tidak sempurna. Degnan demikian saya tidak munafik dengan selalu menggemborkan bahwa saya makhluk sempurna, sempurna itu tak bercelah.. sedangkan saya.. terlalu banyak lubang dalam tubuh ini. Ya memang saya tidak sempurna.. tidak sesempurna manusia-manusia lain yang selalu menganggap diri mereka terbaik, terkasih, terkaya, dan ter- ter- lainnya.. Bodoh ini harus kuubah menjadi sebuah keingin tahuan agar setidaknya ssedikit lubang ditubuh ini dapat berkurang..

Kata orang bersekolahlah agar kau pintar dan tidak bodoh, tuntutlah ilmu setinggi mungkin agar dapat hidup layak dan bahagia.. Yaa aku bersekolah dan pada saat-saat jenjang persekolahan itu aku juga mulai tahu, ketika SD (Sekolah Dasar) aku tahu bahwa 1+1=2, Budi punya ayah dan Ibu (aku juga punya), Aku juga tahu bahwa Majapahit merupakan salah satu dasar dalam cikal-bakal negara ini (Hanya saja sekarang muncul opini bahwa Majapahit hanyalah perserikatan kerajaan saja) hingga Pluto adalah Planet ke 9 tata surya ini (Hanya saja sekarang sudah tidak diakui lagi sebagai sebuah Planet, mungkin karena dia berbeda!). SMP (Sekolah Menegah Pertama) aku mengerti  ax2 + bx + c = 0 (Hanya saja sampai sekarang tidak paham apa gunanya dalam dunia dewasa ini),  aku juga mengerti bahwa i love you merupakan kata yang keren untuk mengungkapkan perasaan cinta kepada lawan jenis (Hanya saja sampai sekarang aku masih tidak paham apa itu cinta), waktu itu juga aku juga memahami bahwa arus positif dan negatif listrik AC bila digabungkan akan terjadi percikan api yang indah dibarengi dengan padamnya lampu disekolah serta teriakan sengsara-kecewa dari lab komputasi. Masa SMA (Sekolah Menengah Atas) aku juga mengerti bahwa ich liebe dich merupakan kata yang lebih keren dari I love you (Dia bahkan sampai terkesima tak berucap, entah terharu atau sama sepertiku yang saat itu masih bertanya-tanya apa arti kalimat itu sebenarnya). Aku juga mengerti bahwa Albert Einstein menemukan E=mc2 teori relativitas, bahwa setiap pendapat manusia itu relatif, apa yang seseorang itu anggap itu baik belum tentu baik bagi orang lain (entahlah kalau salah, teman saya suka tertidur pada waktu mata pelajaran fisika), Saya juga tahu bahwa Socrates, Plato, Aristoteles itu manusia-manusia luar biasa yang selalu bertanya kenapa ini, mengapa itu, apa ini, bagaimana itu.. Tidak lupa pula Kahlil Gibran yang memabukkan dengan berbagai kata-kata romantisnya.. Selain itu juga saya tahu bahwa otot kaki katak masih dapat bergerak setelah dia mati (meskipun saya harus menghilangkan satu nyawa.. SATU NYAWA untuk hal yang bisa ditemukan di google).. Karena itu juga saya jadi mengerti bahwa tubuh ini terdiri dari sel-sel yang sangat kecil dimana jika digabung dengan mata pelajaran agama bahwa setiap sel itu berdzikir, mengagungkan Allah setiap waktu sedangkan saya masih asyik bermain Play Station 2 bersama sahabat karib saya, setiap waktu. Masa kuliah pun saya tahu bahwa seorang mahasiswa arsitek harus tidak tidur hingga beberapa malam dan hanya duduk di depan meja gambar atau laptop bertemankan secangkir air putih, teh, kopi (juga berbagai cairan lainnya) dan beberapa puntung rokok demi sebuah gambar.. gambar kotak, segi tiga, bundar hasil analisis dari kawasan, Alam (vegetasi, angin, matahari, manusia), Sosial masyarakat, budaya, kesenian, geometri, psikologi, green, sustainable, sirkulasi, jalan, got, sungai, aktivitas manusia, jalur kereta api, bis, angkutan umum, agama, fungsi, makna, filosofi, modern-vernakular, bentuk, ruang, waktu, investasi, struktur, konstruksi, material, warna, gaya, candi, penataan kawasan, monumental dan bla.. bla.. bla.. (Padahal semula kata mereka arsitektur hanya menggambar, apa sih susahnya menggambar? Gambar kotak, segitiga, dan bundar?) Dan dari semua itu saya jadi tahu 2 hal penting, dan akan kujadikan pegangan dalam hidup ini.. Pertama tentang teori relativitas bahwa semua yang ada di dunia ini relatif, tergantung sudut pandang setiap orang.. (bahkan karib saya pernah bilang bahwa tidak ada yang benar-benar-benar (lalu bagaimana dengan  Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran?)) dan kedua sebagai calon arsitek aku harus lebih banyak tahu.. mungkin dengan berjalan.. menemukan hal baru untuk diketahui..


Kata orang dunia itu sempit, orang satu dan lainnya sering bertemu beberapa kali pada tempat (ruang) dan waktu yang berbeda. Pernah aku sependapat, dunia ini sempit, keluar dari Jawa saja belum pernah, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Semarang, Banyuwangi pun hanya sekali.. selebihnya waktu ini habis berkutat dengan Jombang, Malang, Surabaya, Kediri, Pasuruan, Mojokerto, dan hanya sesekali ke Gresik, Sidoarjo, Lumajang, Nganjuk. Hanya saja selama apapun aku di Jombang tak dapat kujelajahi semua Pondok Pesantrennya, juga alamnya bahkan Candi Arimbi saja aku kesulitan menemukannya. Selama apapun di Malang tak juga kutuntaskan semua gunung yang mengitarinya, tidak pula dapat kususuri seluruh pantai di bagian selatannya. Lalu seberapa lamapun aku di Surabaya tidak juga dapat aku jejakkan kaki di setiap mallnya, apalagi tanah Madura diseberangnya. Itu saja baru Jawa, bagian timur.. lalu bagaimana dengan dunia? Bumi ini? Apa benar sesempit itukah bumi ini seperti kata orang? Relatifitas versiku mulai menyeruak, bahwa sempit-luas itu hanya pendapat, dan yang kutahu bumi tak sesempit itu, bagaimanapun juga bumi tidak akan pernah sesempit itu.. dan aku harus mulai berjalan meskipun perlahan..



Kata orang hidup jangan dibawa susah.. tersenyumlah.. tertawalah maka beban-beban itu akan segera menghilang.. aku coba ternyenyum, aku coba tertawa, ringan memang sekaan beban itu menghilang, lega, nyaman, riang.. Hanya saja ternyata tidak banyak yang hal yang membuat mulut ini tertawa dan hati ini riang, semua terbatasi dan butuh sebuah kondisi yang pas bersama orang yang tepat yang tidak selalu kutemui dalam alur yang sudah kujalani ini. Yaa.. mereka orang-orang yang suka menghilang, tersesat di bumi, dan berusaha pulang untuk bertemu kembali. Suatu waktu kuikuti mereka ke salah satu puncak di Jawa Timur dan medan yang berat, jauh di atas, dingin luar biasa menusuk setiap pori kulit, namun kami tertawa.. bersama.. didepan kawahnya yang mengepulkan asap belerang.  Perjalanan berlanjut menyusuri laut.. hijau bertemu biru pada sebuah horizon.. indah.. tentram.. damai.. Matahari menari diubun-ubun dan panasnya terserap oleh pasir pantai membuat kaki tanpa alas melepuh, namun kami tetap tertawa. Teman.. rasanya aku sudah mulai menemukan rumahku, ternyata alam ini rumah sesungguhnya bagi setiap manusia. Tak peduli sesusah apapun kita tetap tertawa bersama.. Alam ini ada sesuatu yang dapat meleburkan setiap yang mati dan yang hidup..



MULANYA..
Kata orang hidup harus terus berjalan, Yaa hidupku memang terus berjalan hingga pada suatu titik aku bingung. Tersesat dan tersasar dalam paradigma orang lain. Meskipun aku mulai menenemukan beberapa jalanku namun masih terlalu banyak kata orang, aku yang semula hanya ingin tahu kini tersesat dalam berbagai macam opini kata orang, kemauan orang lain. Kata orang yang awalnya aku anggap sebagai panutan bahwa mereka lebih tahu pun serasa menyesakkan otak ini. Aku sadar hidup memang bertautan layaknya sebuah jaring laba-laba dengan berbagai simpulnya, aku juga tahu bahwa hidup ini bukan selalu tentang aku.. Hanya saja aku juga harus sadar bahwa pada simpul ini akulah subjek hidupku.. bukan orang-orang itu dengan berbagai kata mereka.. dia seharusnya menjadi subjek dalam hidupnya bukan hidupku. Tidak mungkin aku hanya menjadi penyambung simpul satu dengan lainnya saja dan menjadi pelengkap hidup mereka saja, ini hidupku, aku yang harus pegang kendali hidupku, simpul ini adalah duniaku.. dan sekali lagi ini hidupku.. ruang dan waktuku..

Maka Kataku: Hidup itu relatif, tidak semuanya baik bagi setiap orang, tidak semuanya harus seperti seseorang yang selalu berada di puncak.. Puncak memang harus didaki dan jurang terkadang harus dituruni demi mendapat sebuah perspektif yang lain. Alam adalah rumahku, rumah setiap makhluk, yang hidup dan yang mati, bukan suatu bentuk artifisial yang berdasarkan kotak, segitiga maupun bundar. Hidupku adalah ruang waktuku, lalu apa yang ku tunggu? Selama kaki masih mampu melangkah, aku akan terus melangkah bersama mereka beriringan.. perlahan.. berlari menikmati.. selama rasa ingin tahu masih terus berkobar perjalanan harus dilakukan, selama ruang dan waktu ini masih milikku sesuatu yang baru harus kuraih, selama alam ini masih bisa menjadi rumahku maka ruang waktu baru harus kudapatkan..





*Kataku lagi: Mahameru, Rinjani.. tetaplah dipuncak dan tunggu kehadiranku disana..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar