Watch out

Watch out

Sang Pencakar langit

Sang Pencakar langit

Vertikalitas... sebuah frasa yang menggambarkan tentang hubungan secara vertikal seperti, daun&akar, langit&bumi, raja&abdi, Tuhan&manusia. Vertikalitas identik dengan langit, langit yang nun jauh tinggi diatas sana dijunjung tinggi dengan tingkat kesakralan yang luar biasa. Semenjak dulu bisa dikatakan bahwa kehendak langit adalah kehendak Tuhan, kehendak para dewa-dewi yang bersemayam di atas awan, dan barang siapa manusia yang dapat mendekat ke langit bisa saja derajatnya lebih tinggi dari sebangsanya, terlebih ketika manusia tersebut mendapat wangsit, wahyu dan semacamnya. Ketidak tahuan serta ketidak mampuan manusia untuk menguji hal tersebut membuat banyak manusia merasa takut, bertanya-tanya, menghindari, tidak menghiraukan bahkan mencemooh akan sesuatu yang jauh diatas sana, sisanya neriman apa adanya. Sedikit sekali orang yang bertanya apa yang ada dia sana sehingga sebuah pohon mampu memberontak terhadap gravitasi dan terus menjulang mencoba mencapai langit dengan membentuk vertikalitasnya sendiri dimana puncaknya dinahkodai oleh seutas tunas kecil..

Masih di jaman dulu, di nusantara tepatnya. Vertikalitas ini erat kaitannya dengan raja, bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa Raja adalah titisan Tuhan. Ada yang menarik dari arsitektur (asal dari penamaan pencakar langit adalah bangunan yang tinggi menjulang, biasanya puluhan lantai hingga ratusan) jaman dulu yaitu minaret pada masjid nusantara sempat dilarang keberadaannya karena posisi dari orang yang menaiki minaret tersebut secara harafiah lebih tinggi dari rajanyanya. Penggaris bawahannya adalah bahkan orang-orang yang mengerti agama pun sempat mentolerir bahwa raja tidak boleh lebih rendah dari apapun selain alam itu sendiri... Itulah mengapa candi yang merupakan peristirahatan terakhir, perlambang, tempat ibadah harus lebih tinggi dari bangunan lainnya, banyak pula yang menempatkannya di atas gunung dan bukit-bukit serta dataran tinggi. Memang ada agama yang mengajarkan kasta terkait dengan adannya vertikalitas, namun ada juga yang mengajarkan semua orang itu sejajar dan sama tinggi. Itu nasib sang pencakarlagit dimasa dulu..
Kita hidup dijaman sekarang dimana perkembangan jaman tidak lagi mengekang seperti dulu, nasib sang pencakar langit pun tidak setragis dulu yang nyaris tidak ada karena tidak boleh lebih tinggi dari manusia. Teknologi, sains, otak manusia, kebutuhan jaman, prestise, mencoba memperkuat keberadaan si pencakar langit dewasa ini. Yang dulu dilarang sekarang dielu-elukan, menjadi sesuatu yang menakjubkan dan hanya untuk kasta tertentu saja (tetap hanya orang tertentu yang derajatnya diatas sebangsanya yang bisa mendudukinya). Bahkan sekarang kedudukan seorang presiden pun tak menjadi sebuah halangan bagi manusia lainnya untuk mencengkeram langit (presiden yang setara raja (bahkan lebih) karena wilayah kekuasaannya yang lebih besar, (kekuasaannya?) mungkin hanya simbol dari sebuah organisasi sekelompok orang yang ingin mengusai (berbeda dengan raja dulu yang sampai disembah dan abdinya siap mati demi beliau)). Bagaima itu bisa terjadi? pencakar langit yang sekarang banyak menyesuaikan kebutuhan dan fungsi untuk manusia dimana bumi yang tak bertambah luas (bahkan daratannya semakin menyempit akibat naiknya permukaan air laut) dengan jumlah manusia yang semakin banyak membuat arsitektur tak lagi rendah, namun menjulang ke atas (nagaimana mau mencengkeram masuk kedalam bumi? selain boros energi karena butuh sinar matahari dan angin, bangunan tersebut juga riskan dengan gempa yang mungkin saja bisa patah saat gempa menggilasnya) seakan mencoba menghampiri langit dan berucap, hei bagaimana kabarmu disana baik-baik saja bukan? Kesakralan langit coba disisipi keindahan sang pencakar langit dari sudut pandang manusia, dengan bentuk yang beraneka ragam seperti kotak, layar, dan lain sebainya... berlapis titanium dan berbagai material terbaik yang dulu hanya digunakan untuk seorang raja...

Vertikalitas kini menjadi monopoli para manusia, Gereja Gotik sebagai sebuah monumen persembahan vertikalitas kepada Tuhan pun tidak lebih dari sebuah perencanaan manusia demi menggapai sebuah prestise baik dalam ekonomi, kedigdayaan, teknologi, hingga agama. Anda pasti sudah banyak melihat tower BTC yang memancarkan sinyal telepon selular anda itu pasti lebih tinggi dari Masjid atau gereja atau Pura, bukankah sekarang semua sudah berbanding terbalik dengan jaman dahulu dimana manusia sekarang merasa bahwa semua ini dapat dikuasai. Kesakralan seorang raja tidak akan banyak berpengaruh setelah motif-motif seperti ekonomi masuk ke dalam sendi sosial. Bukankan pencakar langit menjadi sebuah simbol akan ketidak pedulian logika terhadap keimanan?

Semua berubah, entah semakin membaik ataupun sebaliknya, pengetahuan mampu mengungkap berbagai hal tabu untuk dimengerti, dan manusia persimpangan semakin merasa hampa akan keimanannya dan juga logikanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar