Watch out

Watch out

Orang Indonesia dan Hashtag

Ngomongin masalah manusia di Indonesia nih.. lagi..
Terus terang tidak seharusnya saya menuliskan ini, namun sebagai salah satu cara saya untuk berbagai sekalian berkata maka ini harus ditulis. Sebuah opini tentang kelakuan manusia Indonesia yang akhir-akhir ini semakin meresahkan, tanpa mereka sadari..

Kebiasaan baru itu adalah mengumbar apapun di media sosial, sudah menjadi sebuah budaya baru bag masyarakat ini. Entah twitter, facebook, blog, instagram dll. Mengungkapkan apapun yang mereka rasa, memperlihatkan berbagai macam apapun kegiatan mereka, berbagi kebahagiaan hingga menghujat, mencemooh, menyampaikan ketidak senangan dan melakukan hal yang menurut mereka tindakan heroik seperti berkicau tentang KPK dan Polri (lalu menyematkan hashtag save kpk, save polri). Mungkin menyampaikan sebuah aspirasi tentang sebuah hal yang itu penting, mungkin pula bagi sebagian orang yang memiliki ratusan, ribuan, k, m follower perlu adanya menyampaikan rasa simpati dan sebagainya. Mungkin pula keinginan untuk dikenal lah yang menjadikan mereka selalu update dengan hal-hal baru termasuk pergolakan dan kisruh dalam negeri

(#)savekpk, (#)savepolri, (#)saveindonesia, (#)shameonyouSBY dll menjadi sebuah trending topic dalam satu waktu di twitter yang identik dengan hashtag, belum masalah naik turun BBM serta kampanye pemilihan presiden kemarin. Perlu diingat bahwa penggunaan hashtag bertujuan untuk memudahkan penggolongan sebuah post, namun hashtag tersebut juga merupakan sesuatu yang populer dalam suatu masa waktu sehingga otomatis semua pengguna sosmed tersebut di dunia mengetahui bahwa kejadian itu sedang trend di waktu itu. DUNIA.. bayangkan seorang Barrack Obama, Tony Blair, David Camerron, dll melihat (#)shameonyouSBY. Mungkin mereka akan merasa prihatin terhadap apa yang sedang menimpa Presiden (mantan) SBY. Namun juga tidak mungkin mereka tertawa sinis, melecehkan pak SBY yang merupakan pimpinan sebuah negara dan dihina dina oleh ribuan rakyatnya sendiri. Rakyat yang seharusnya menghormati, segan, dll terhadap pemimpinnya (saya bukan membela pak SBY, namun dalam kasus itu pak SBY yang dibully, sama saja jika presiden lainnya dibully, dan sepertinya pak Jokowi bakal menyusul). Bukankah hal itu bisa memunculkan anggapan dari para pemimpin dunia bahwa kita adalah sebuah negara yang kekanak-kanakan? sebuah negara yang tidak cukup kuat dan percaya terhadap pemimpinnya? Bukankah itu juga memunculkan berbagai peluang bagi negara lain untuk menganggap rendah kita, juga menunjukkan bahwa kita bukan negara yang kondusif, bukan negara tenteram yang manusianya sakenake dewe. Memperlihatkan bahwa kita negara yang seakan besar namun kopong di dalamnya?. Bukankah dengan demikian negara lain jadi tahu bagaimana untuk menyetir negara ini, peluang untuk menyusupkan ide dan konsep untuk tidak percaya pada pemerintah dan melakukan reformasi ke 2 dan akhirnya negara lain ikut-ikut dalam urusan dalam negeri? Kita harus belajar pada negara lain, Arab Saudi, Palestina-Israel, Rusia-Ukraina bahwa tidak semua negara tetangga itu baik dan juga selalu siap bahwa negara lain itu siap menggerogoti kita baik dari dalam maupun dari luar. (Kita semua harus tahu bahwa berdirinya sebuah negara ataupun wilayah kekuasaan itu harus dengan perang, sejarah telah membuktikan itu. Dulu kita dikenal sebagai Sriwijaya, lalu musnah berganti Majapahit hingga padam menjadi Demak dll, yang pada akhirnya belum genap seabad lalu kita mengikrarkan diri menjadi Indonesia, dan siapa yang tau besok kita berubah menjadi apa lagi setelah urusan dalam negeri ini porak-poranda). Bolehlah kita mencomot sikap politik luar negeri Indonesia masa lalu yang bebas aktif, bebas tidak memihak pada kubu manapun dan juga aktif turut andil dalam percaturan dunia. Nah, kalau kebebasan itu kita gunakan sebebas-bebasnya maka akan muncul keaktifan dari negara lain untuk turut serta dalam kegiatan dalam negeri (maaf, kalau anda nggak nyambung.. haha)

Oleh karena itu untuk mencapai Indonesia yang damai dan selama-lamanya bukankah ada biknya kita tidak nyinyir dan sedikit dapat mengendalikan diri ini terhadap apapun termasuk kekisruhan dalam negeri ini. Ada baiknya itu tetap menjadi berita nasional, sehingga internasional diam-diam saja. Justru ketika ada hal baik tentang negara ini, atau anda ingin menunjukkan segala keunggulan budaya, alam, seni dan sebagainya gunakan hashtag tersebut agar image&persepsi mereka terpengaruhi, bukan berbagai macam kekisruhan kan? Media massa pun seharusnya tidak mengompor-ngompori masyarakat untuk berkicau menyatakan pendapat menggunakan hashtag tertentu yang belum tentu itu dari pikiran mereka murni, terlebih itu sebuah pendapat yang bisa dengan cepat berubah-ubah. Hal yang lebih parah dilakukan oleh media massa adalah mereka mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi tranding topic sosmed tertentu (ditambah dengan senyum meriah si pembawa acara)... APA-APAAN ITU?.. Itu hal yang tragis.. Seperti mengorek borok negara sendiri untuk diperlihatkan ke negara lain bahwa kita ini penuh luka dan borok..

Mengaspirasikan sesuatu memang baik, supaya mereka yang diatas mendengar namun sekali lagi perlu diperhatikan dampaknya agar kita sendiri tidak terkena imbasnya. Ada baiknya juga penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa dalam hashtag dapat membuat berita dan opini itu berputar hanya dalam negeri saja. Sekalipun mereka yang diluar sana tau pasti mereka perlu menterjemahkan dan memahami kembali karena pemahamannya belum tentu sama, apalagi kalau menggunakan bahasa gaul???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar