Saya berterima kasih sekali karena saya masuk jurusan Arsitektur, dengan demikian sedikit banyak saya bisa berjalan-jalan dan menemukan hal-hal baru yang menyenangkan.. Yahhh meskipun covernya adalah arsitektur namun alangkah indahnya meihat isi bangunan dan lingkungan binaan itu berkolaborasi mengahdirkan suasana yang indah yang sesuai dengan fungsinya... Kali ini saya berjalan-jaan di Kabupaten kelahiran saya yaitu Jombang.. bukan iseng tapi sekedar pencarian untuk skripsi saya.. dan kali ini saya berhenti pada bangunan-bangunan peribadatan yang ada di Kabupaten Jombang. Meskipun Islam mendominasi di Jombang namun anda juga pasti mengenal bahwa Jombang juga merupakan kabupaten yang baik dalam hubungan antar umat beragamanya... Jadi saya hadirkan empat objek yang menjadi ikon peribadatan di Kabupaten Jombang...
Masjid Agung Baitul Mukminin
Masjid terbesar, pusat kegiatan Islam umat Islam, Ikon keislaman Jombang... Masjid ini merupakan Masjid Jami' yang kental dengan nuansa arsitektur nusantara. Tidak hanya bentuk yang telah mengalami pemugaran namun juga letaknya yang berada di barat alun-alun Jombang yang diitari oleh pusat pendidikan, pusat pemerintahan dan pusat transportasi. Sebelum dipugar Masjid ini sempat menjadi saah satu masjid tua di Jawa Timur namun ketuaan itu menghilang mengingat wajah baru dengan atap meru nya dan dua minaret yang berdiri gagah. Ya mungkin anda akan bisa mendeskripsikan sendiri melalui gambar dibawah yang ingin saya ulas adalah bagaimana suasana yang ada didalamnya... Begitu berada didepan kesan megah muncul yang membuat saya menjadi kecil dan bukan siapa-siapa. Memasuki tubuh bangunan saya merasa dingin dan "dingin" dengan akibat material yang digunakan abu-abu granit mendominasi. Begitu masuk ke ruang shalat kembali saya dipaksa untuk merasa kecil dengan penggunaan proporsi pada bagian mimbarnya. Indah memang, megah, sejuk, cerlang bayang cahaya matahari pagi pun ikut membuat suasana yang bagus. Memang seharusnya seperti inilah suasana yang ada pada sebuah Masjid.
Gereja Jawi Wetan Mojowarno
GKJW tertua di Jawa Timur ini dibanun 1879 dan diresmikan 1881. Letaknya di Mojowarno. Bila anda tau lokasi pemakaman Gus Dur maka anda harus ke timur lagi sejauh 15-25 menit perjalanan sepeda motor. Disini memang terdapat kompleks umat kristiani mulai rumah sakit kristen, sekolah kristen dan gereja itu sendiri. Wujudnya seperti bangunan kolonial, putih dengan kolom-kolom dibagian depan. Uniknya terdapat sebuah menara yang terdapat lonceng raksaksa di bagian atas gereja ini. Yang menjadi ciri khas justru ornamen yang digunakan yaitu aksara jawa kuno (hanacaraka) yang tersemat pada bagian gerbang dan fasad bangunan tersebut. Lonceng yang saya sebutkan sebelumnya masih ada hingga kini namun tidaklagi digunakan dan digantikan dengan lonceng yang lain. Tidak hanya itu didalamnya juga terdapat seperangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi paduan suara gereja tersebut. Suasana yang terasa rata, halus. putih suci, dan fokus..
Pura Amertha Buana
Saya heran dan baru tahu bahwa Jombang memiliki pura, tidak hanya satu namun dua yang pernah saya lihat sendiri bahkan melalui penelusuran google setidaknya ada enam pura di Kabupaten Jombang.. Beneran nih?? Ya saya juga belum membuktikan tapi yang saya benar tahu ada dua, satu di Ngoro dan satu lagi di Wonosalam.. Kali ini yang saya kunjungi yang dekat dengan pusat kota (Ngoro, karena Wonosalam terletak dipucuk kaki gunung anjasmoro). Bila anda sedang dalam dalam perjalanan dari Jombang atau Kediri ke Malang melewati Ngoro anda harus melihat ke arah kanan setelah pasar Ngoro.. maka anda akan menemukan pura ini. Pura ini sudah ada sekitar 30 tahun yang lalu dan menurut penjaganya puranya didatangkan langsung dari Bali.. Keren... Disana anda akan menemukan candi Bentar dan Jeroan yang didalamnya ada pura ini. Nuansa alami terasa sangat karena lokasinya yang terbuka menyatu dengan alam dan ternaungi oleh sebuah pohon besar yang termat sangat rindang. Sejuk, Indah dan gemericik air sungai juga membuat suasana alam hadir dalam pura ini.
Kelenteng Hong San Kiong
Kata website dan blog dunia maya Kelenteng ini disebut berdiri pada tahun 1700 an, tapi setelah saya ketemu pak Andrian dan pak Toni saya mendapatkan jawaban bahwa berdasarkan perkamen yang tertulis kelenteng ini tercatat pada 1900 an namun pada makam cina di daerah Gudo ada makam dengan usia 1700 dengan demikian asumsi merka pada tahun 1700 ada komunitas Cina di Gudo ini dan kebiasaan orang Cina jika ada komunitas pasti ada tempat beribadah mereka yaitu Kelenteng Hong San Kiong ini. Menurut pak Andrian lagi di makam cina itu bersemayan seseorang sekelas Jendral pada masa dinasti Ming dulu, jadi ya kelenteng itu seharusnya sudah ada pada tahun tersebut. Terlepas dari itu memang kesan kuno terasa dengan sangat meskipun dibelakang bangunan utama terdapat bangunan kelenteng tambahan bagi umat Budha. Yang mencolok adalah merah (bukan hanya warna bangunan tapi kesan dalam bangunan) dan aroma yang khas.. Ditambah dengan lilin besar maka terasa benar suasana khidmat, temaram...
Sejatinya mereka berempat adalah sebuah tempat yang digunakan untuk beribadah, menyembah Tuhan meskipun menurut mereka Tuhannya tidaklah sama. Jika ingin melucuti lagi maka tempat-tempat tersebut adalah sebuah sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah sarana untuk menghubungi Tuhan dengan beragam suasa yang tercipta didalamnya. Tidak ada yang yang jelek dan semuanya baik, mereka mengeluarkan apa yang mereka rasa dalam mendesain sebuah tempat peribadatan untuk dapat mencapai komunikasi yang lebih baik terhadap Tuhan (meskipun dengan cara masing-masing). Justru inilah arti sebuah kepluralan yang dapat menggambarkan satu tujuan (berkontemplasi kepada Tuhan) dengan cara masing-masing.













super sekali pakkkk..
BalasHapuske4 bangunan ini ada di jombang, apakah anda melihat adakah kesamaan dari secuil detail atau sesuatu pada ke4 bangunan ini pak???