Humanisme... Satu kata yang mewakili kesetaraan dalam berbagai hal setiap individu (manusia) yang menjejakkan kakinya dimuka bumi ini, dalam kaitannya dengan pemenuhan hak setiap insan manusia. Terasa lucu memang mengingat untuk memperjuangkan kemerdekaan kita harus memegang erat humanisme yang notabene adalah ajaran dari bangsa kolonial. Humanisme yang mereka gembar-gemborkan mejadi senjata balik untuk menggapai kemerdekaan, untuk menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Berawal dari sebuah anggapan kebudayaan bermartabat atau tidak, logika atau kepercayaan, hingga bagaimana sebuah kain melekat di tubuh ini.
Dulu mereka beranggapan budaya kita melucuti harga diri kita dengan menghambakan diri ini kepada "diktaktor" keturunan dewa" mereka juga mengatakan kebudayaan kita sangat mengikat hingga sisi kemanusiaan kita lepas dari diri ini dan seakan menjadi budak.. sahaya.. menghambakan diri.. takut tidak berguna bagi orang lain.. bagi dunia.. bagi diri ini sendiri. Mereka menilai dan terus menilai seakan hidup ini hanya berdasarkan pada angka-angka yang menunjukkan mana yang paling terbaik.. dan yang terbaiklah yang lebih pantas berada diatas... menjajah.. memonopoli.. Mereka bilang budaya kita, pedoman kita adalah sesuatu yang mengganjal kemartabatan sebuah bangsa.. sehingga kita tidak cukup pantas memiliki tanah air ini, tanah kelahiran..
"Haruskah untuk menjadi bermartabat, budaya-budaya yang mengekang kita, budaya-budaya yang mengoyak logika kita, budaya-budaya yang menuntut balik kewarasan individu manusia, budaya-budaya yang merendahkan martabat manusia dihanguskan, dilenyapkan, dimuseumkan dan hanya dijadikan pengisi lembaran ingatan manusia yang suatu saat pasti menghilang dari mayoritas otak manusia?"
Sedangkan mereka dengan semangat revolusi.. berlogika tiada batas menghasilkan teknologi yang menakjubkan, ilmu pengetahuan yang mendobrak batas-batas kesakralan dunia ini. Mereka yang membuat hal-hal luar biasa menjadi terlihat biasa dan yang tidakdiketahui menjadi diketahui..
"Otak, logika memang sumber penemuan hal-hal baru yang diluar dari apa yang ada pada jamannya, dengan berbagai pemikiran, ekperimen, semua yang tabu menjadi terang dan masuk akal.... semula yang gelap menjadi abu-abu... namun tidak akan pernah menjadi putih... karena logika paten pada saatnya dan akan terus berkembang dan digantikan oleh penemuan baru pada jaman yang akan datang..."
Saat ini Logika menjadi landasan hidup, semua harus masuk akal sekalipun itu utopis tapi pada suatu saat akan datang pada masanya hal tersebut akan menjadi kenyataan... Lalu setelah semua harus sesuai dengan otak manusia bagaimana dengan mereka yang hidup dengan mengandalkan kepercayaan hati mereka yang terdalam... Semua juga memahami bahwa dunia terus berputar yang pada masanya suatu kepercayaan harus berganti dengan logika... Mungkin bahkan Tuhan harus berganti dengan ilmu pengetahuan..
Namun kini...
Entah mereka mencari sebuah keisengan, atau sudah bosan dengan apa yang sudah mereka lakukan berabad-abad hingga menemui titik jenuhnya.. membuat mereka lupa akan siapa diri mereka sendiri. Mereka yang dulu menganggap diri mereka bermartabat, menganggap diri mereka unggul kini mulai tergerus oleh apa yang dilakukan sebagian dari mereka.. mereka mulai kehilangan jati diri, kehilangan identitas.. bertelanjang tubuh demi sebuah kenikmatan dunia.. mengubah semua hal yang berwarna menjadi abu-abu dan tidak lagi menjadi sesuatu hal yang menggairahkan..
Sungguh ironis memang kebudayaan yang dulu diangggap sebagai salah satu penghalang kemajuan sebuah bangsa kini harus mati-matian dicari, ditelaah, ditelanjangi dan kembali dijadikan warna sebuah bangsa.. Menyakitkan memang mereka yang dulu membodoh-bodohkan kita atas apa yang kita lakukan justru mulai melakukan apa yang kita lakukan dulu.. Menjengkelkan memang ketika mereka terus menggurui kita tentang berbagai macam hal ditengah kelakuan mereka yang tidak lebih bermartabat dari kita. Memang mereka bisa meluncurkan manusia ke bulan.. namun apa memang benar kita butuh pergi ke bulan.. Apa perlu kita meniggalkan bumi yang memberikan semua hal yang kita tau dan mulai menjajah planet lain.. Tidak senangkah kau hidup dan mati di bumimu sendiri... Senangkah kau dapat dibilang sebagai sebuah bangsa adidaya ditengah penderitaan bangsa lainnya.. Bukankah pengakuan dari orang lain akan menambah banyak masalah dibandingkan dengan hidup apa adaya.. berpetualang apa adanya.. Dan kini kau kembali pada kami dengan latar belakang budaya kami dan mengeksplorasinya dengan penuh semangat.. Mengapa?? Lantaran kami bodoh karena tidak bisa mempertahankan warna kami?? Karena kami bangsa tidak bermartabat yang melupakan apa yang dianugerahkan bumi dan bangsa kami sebelumnya ?? Hey bangsa asing.. bukankah karena apa yang kamu ajarkan kami menjadi seperti ini.. Ya kami memang bodoh.. Tidak bisa mengenal siapa diri kami sendiri.. Sekumpulan individu egois yang memanfaatkan sumberdaya, kekuasan demi kepentingan sendiri..Ya kami memang rusak.. dan memang semua karena kami sendiri.. karena kami tidak mampu berkembang bebas seperti dirimu dulu..
Hanya kebudayaan ironis inilah yang kami punya.. Cukuplah kau mengurusi diri ini.. Carilah identitasmu sendiri... Galilah bumimu.. Tanah airmu.. Janganlah kau ulangi lagi penjajahan ini dengan memberikan kami entertainmen dan teknologi abu-abu sedangkan kau menguras jati diri kami, mengabu-abukan kami dan membuat kami harus menguras habis sumber daya ini hanya untuk teknologimu.. Sudah cukuplah penjajahan terselubung ini..
Mungkin bangsa ku tidak akan pernah bangkit, menyerangmu.. karena kami tau batasan.. kami tau bahwa yang kami cari adalah kenyamanan dan perdamaian.. Hidupku di bumi manusia ku ini adalah petualanganku.. dan begitu juga seharusnya hidupmu dan bumi manusiamu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar