Konsep Arsitektur Visionaris
Sebuah pemukiman yang mau membalas budi
Bantaran Rel Kereta Api Stasiun Kota Lama Malang)
Camboran adalah sebuah kawasan yang cukup memegang kendali transportasi kota malang, meskipun hanya melalui Kereta Api dan dokar/cikar saja, namun untuk kelas tahun 1800-1900 an itu merupakan hal yang istimewa bukan??? Stasiun Kota Lama menjadi primadona dengan berbagai sejarahnya sebagai Stasiun pertama di Kota Malang seharusnya layak mendapat apresiasi lebih baik dari pemerintah ataupun masyarakat yang selama ini menumpangkan hidupnya pada Stasiun ini. Di masa tuanya yang tidak digubris ini sudah selayaknya masyarakat tergerak untuk membalas budi menjaganya supaya kejadian seperti stasiun semut tidak terulang lagi.
Aktivitas yang terjadi pada Stasiun Kota Lama Malang tidak lagi sesibuk pada saat awal berdirinya stasiun tersebut. Meskipun tidak menunjukkan keinginan untuk mati, namun pengurangan aktivitas yang signifikan ini membuat tanda-tanda kehidupan yang berjalan pada stasiun kota lama tidak berdetak dengan sewajarnya, dan membuat alurnya berjalan sangat lambat. Yah mungkin eksistensi yang dulu pernah menjadi primadona transportasi kini jatuh ketangan stasiun Kota Baru yang lebih meng"kota" dan modern mungkin, serta lokasi yang lebih aksessibel dan bla, bla, bla.
Sebuah keironian ketika lambat laun kereta api saat ini menjadikan Stasiun Kota Lama sebagai sebuah pemberhentian sesaat. Hanya dia yang merasa rendah dan bawah mau untuk sedikit berlama-lama melepas penat masinis dan menanti penumpang untk menaikinya. Dengan demikian terbentuklah segmentasi stasiun berdasarkan kelas kereta api yang mau berhenti disana. Stasiun kota lama tidak lagi populer, dia ditinggalkan, dan apa yang dirasakan pun tidak cukup menyenangkan hingga menunggu detik-detik kematiannya.
Peran Kereta Api dan Stasiun di Indonesia memang seperti tumpahan gula yang berceceran dan membuat semut-semut mendatanginya. Lalbel sebagai alat transportasi paling murah dan efektif dengan rute yang paling jauh membuat banyak orang menggantungkan hidupnya pada alat transportasi ini. Tidak hanya itu lahan sekitar stasiun pun menjadi ladang bagi kaum urban yang termarginalkan. Kaum-kaum yang tidak cukup mempu untuk mencapai puncak disosialitas perkotaan dan hanya dapat hidup disini dengan harapan untuk dapat meraih yang hidup yang lebih baik dan segera pergi dari tanah pinjaman tersebut. Namun justru kehidupanlah yang menjebak mereka untuk terus-menerus memakai tanah PT KAI tanpa tau kapan mereka harus pergi baik dengan senang hati ataupun paksaan.
Sistem Parsipatori masyarakat dengan mengandalkan kompetensi masyarakatnya sebagai sebuah kampung wisata kereta api + Stasiun sebagai sebuah galeri dan pusat heritage perkereta apian kota Malang yang merevive kembali kenangan-kenangan orang akan stasiun ini dengan terjaga. Stasiun sebagai pusat dan permukiman warga sebagai penyokong kehidupan Stasiun akan terasa sebuah nuansa bahu membahu yang indah dan tidak banyak dijumpai dewasa ini. Selain itu berbagai instalasi barang-barang bekas kereta api akan menambah kental nuansa Stasiun pada kampung ini, ditambah dengan keragaman kuliner kota Malang dan mungkin dapat ditambahkan dengan beberapa workshop tentang instalasi kesenian barang-barang kereta api. Sebuah heritage center yang didalangi para "penumpang" hidup ini seharusnya cukup untuk membuat Stasiun Kota Lama tersebut kembali tersenyum dan unjuk gigi sebagai salah satu karya yang menyelamatkan banyak kehidupan, terutama orang-orang disekitarnya. Dan konsep balas budi masyarakat atas pemakaian lahan dan penggantungan hidup ini akan terpenuhi dengan terjaganya kehidupan stasiun Kota Lama Malang.
Namun ini hanyalah sebuah konsep visonaris yang bergantung dengan pihak-pihak yang terkait dan juga Masyarakat yang ada.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar