Identitas....
Keragaman kota Malang yang terselubung....
Malang terkenal sebagai kota yang hijau, sejuk, bunga, indah, warna-wanrni (rukonya) dan lain-lain sebgainya. Namun yang jelas terlihat ketika anda mengelilingi kotanya adalah bangunannya. Kota Malang tak ubahnya seperti kota-kota besar lain yang wajah kotanya berhias dengan bangunan-bagunan khas kolonial Belanda seperti Surabaya, Semarang, Jogjakarta, Jakarta dll. Bangunan-bangunan tersebut tertata rapi sesuai dengan perancangan tata kota mereka yang pernah menduduki kota Malang ini. Thomas Karstern dipuji karena keberhasilannya dalam penataan kota Malang meskipun belum sepenuhnya selesai, pujian itu terngiang hingga sekarang entah dari buku ataupun pengajar-pengajar dan arsitek-arsitek saat ini. Dan saya juga tidak memungkiri bahwa gagasan perencanaan kota itu merupakan hal yang istimewa. Berpikir sedemikian jauh untuk membangun sebuah kota idaman yang....... Tidak hanya itu selain penataan kotanya, bangunannya pun tidak kalah (meskipun desainnya ya seperti itu-itu saja (maaf..)) Mereka mempelajari keadaan Indonesia mulai dari iklim cuaca, kelembaban, arah peredaraan matahari hingga terbentuklah bangunan-bangunan mereka. Mereka juga mengadopsi arsitektur-arsitektur asli (lokal) yang ada dan dimodifikasi sesuai dengan pakem-pakem mereka.
Banyak orang mengatakan itu indah, itu bagus, itu istimewa, namun terkadang terlintas pikiran itu bangunannya siapa??. Bukannya tidak terbuka dan menutup diri dari orang lain, namun itu terasa bukan kita. Itu pandangan orang lain yang mempelajari kita dan mewujudkan apa yang menurut mereka baik. Memang tidak salah tapi lihat saja seperti kota Malang, Yang nampak hanyalah kolonialisme bekas-bekas penjajahan yang mengelilingi sudut bahkan pusat kotanya. Seharusnya keberadaan bangunan-bangunan itu mengigatkan kita bagaimana penjajahan dulu berlangsung, mereka bisa membagun sesuatu yang megah dan kita hanya mendirikan sebuah gubuk saja. Seharusnya kita juga mengerti mengapa Bandung itu pernah menjadi lautan api dan Malang pun juga, kalau saya ya selain agar tidak dimanfaatkan lagi oleh musuh buat apa kita menjaga sesuatu yang bukan milik kita, nggak ada ruginya, maka pantaslah bahwa bangunan-bangunan itu dibakar (itu dulu).
Kembali dalam konteks kota Malang yang wajahnya penuh dengan bidang-bidang putih yang berjajar sepanjang jalan. Bila kita benar-benar mengakui bahwa kita masih ada keturunan dari kerajaan-kerajaan seperti Majapait, Kadiri, Singosari maka akan didapat bahwa Malang itu kota yang suci yang menjadi saksi bagaimana kerajaan-kerajaan itu menjadi sesuatu yang adidaya. Dan jika kita mengakui bahwa mereka nenek moyang kita maka kita maka kita juga mempunyai serta mewarisi berbagai macam harta, ilmu, kebudayaan hingga bangunan. Berapa macam warna yang kita miliki bila dibandingkan wajah kota Malang saat ini yang tertutupi kolonialisme dan tidak mencitrakan bagaimana Malang yang sebenarnya. Topeng yang dikagumi banyak orang yang sedikit demi sedikit mengelupaskan dan menelantarkan apa yang sesungguhnya kita miliki.
Topeng itu sudah mengakar dan merubah pemikiran generasi pemuda yang banyak tidak tahunya tentang sejarah, apa yang terjadi dimasa lampau, hingga mengapa terjadi demikian. Topeng itu menbuat generasi muda menjadi narsis dan tidak mempeduliakan apa yang seharusnya mereka punyai, apa yang mereka seharusnya jaga. Dan semakin lama maka bangunan-bangunan itu akan berdiri gagah dan menjadi citra yang dielu-elukan sedangkan harta yang sesungguhnya kita miliki hanya terkubur dalam-dalam terpinggirkan dan hancur ditelan waktu.
Huuuuffffttt... (hehehe)
ini hanya inspirasi dan ganjalan yang harus saya selesaikan ketika saya mendapatkan tugas dari salah satu mata kuliah desain saya. Tolong jika anda penggemar bangunan kuno jangan marah, saya hanya mengutarakan kembuletan yang ada di otak saya. Namun ada baiknya membuat wajah kota Malang berwarna-warni dengan kebudayaan stempat yang kita miliki, dan jangan biarkan wajahnyya putih polos seperti wajah bangunan-bangunan kolonial yang rata.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar