Watch out

Watch out

Jejak Yang Terlupakan

 

 Kita semua tau Nusantara ini dari dulu sampai sekarang terdiri dari masyarakat yang jenius. Hanya dahulu itu jenius dalam hal yang baik dan mungkin sekarang sebaliknya,. tapi lupakan sebentar, itu memang masalah yang harus kita pecahkan bersama dan semoga banyak jenius yang muncul untuk mengembalikan kejayaan kita dulu,. Dan sekedar mengingatkan bagaimana kejeniusannya masyarakat kita jaman dulu saya coba menyajikan beberapa gambar yang menurut saya bagus dan monggo lah untuk dinilai sendiri sesuai dengan kata-kata yang nggak begitu jelas berikut ini,... Siluet di atas merupakan penampakan sebuah candi yang terdapat di Malang, menurut saya itu candi yang paling mudah diakses karena letaknya yang berada di Kota Malang meskipun agak kepinggir sedikit. Dibandingkan candi lainnya yang terdapat di kabupaten dan juga daerah sekitarnya. Dengan demikian seharusnya tempat pemujaan ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah kota Malang, tapi yaaa,...selalu ada sebuah ironi yang terjadi dibalik sebuah keseharusan,... Kondisinya memang tidak lagi utuh, dan memang sejak pertama kali ditemukan memang tidak utuh dengan bagian atas yang terpancung hilang. Ahhhhh,.. saya lupa memberi tahukan nama candi ini, ini adalah candi Badut,. dan saya yakin anda pasti bertanya-tanya kenapa dia bernama seunik itu apalagi anda yang tidak berada di kota Malang. Saya tidak akan menjelaskan coba anda googling atau datang langsung saja kesana untuk tau sejarah dan bentuknya serta maknanya tapi yang pasti ada hubungannya dengan lingkungannya dan juga kerajaan yang mendirikannya dulu. Kembali pada topik mengenai kondisi candi ini, selain kondisi yang tidak utuh ada juga bebrapa kelemahan dari kawasan ini yaitu masyarakatnya yang seakan tidak "wawuh" (peduli) terhadap keberadaan candi ini. Mungkin tidak peduli bukan kata yang tepat melainkan karena sudah terbiasa dan menurut mereka tidak ada yang spesial ataupun menguntungkan mereka dari candi ini maka ya sudahlah,.... Selain tidak sengaja terkucilkan oleh masyarakat candi ini seakan-akan juga dikucilkan oleh pemerintah, bagaimana tidak, fasilitas y kurang, lampu ae tanda tanya besar padahal rumah warga terang benderang ketika malam hari tapi candi ini juga gelap-gelapan sajalah, menghemat mungkin, biar PLN nggak terbebani lebih,...

   

 Tapi ada sebuah alasan yang membuat saya ingin mempublish tulisan ini karena disini saya dapat merasakan sebuah karya arsitektural yang benar-benar menyatu dengan alam. angin dapat berlari bebas, awan dan pohon bahu membahu menaungi saya dari ganasnya sengatan matahari sehingga sinarnya dapat menerpa kulit dengan lembut. Sungguh sebuah situasi yang sangat jarang ditemui dewasa ini terlebih di sebuah kota. Damai, nyaman tentram, sunyi,. sepi,.. sendiri,........... (dan tertidur....hahaha(saya hanya bercanda kok,. hahaha, tapi sebenarnya hampir sih,.)) Kenikmatan itulah yang mendorong saya untuk mengkritisi kenapa bangunan yang asli buatan nenek moyang kita, darah daging kita, hanya dibiarkan menjadi seonggok sesuatu yang tidak menarik, tidak penting, tidak terurus dan tidak-tidak lainnya. Tidak ada sebuah penghargaan lebih mengingat sejarah dan fungsi candi sendiri yang dulu merupakan bangunan dengan nilai yang tinggi dan dihormati srtatidak semua orang bisa menggapainya. Namun selalu ada hal-hal yang bertolak belakang jika kita melihat bangunan kolonial yang ada di Indonesia. Sekalipun sudah berupa puing-puing ada saja orang yng ingin merekonstruksi lah, revitalisasi lah, dan re- re- yang lainnya. Padahal seharusnya kita perlu mengingat bahwasecanggih apapun adaptasi bangunantersebut terhadap iklim Indonesia yang membuatnya bukanlah orang Indonesia dan bisa dikatakan penjajah, entah mengapa dalam dunia arsitektur nama-namaseperti Thomas Karsten, Henri Mclainen Pont menjadi beken di kalangan arsitek sejarahwanan. Oke mereka mengembangkang sistem yang baik dan juga sistem adaptasi yang amazing, tapi mereka kan bukan salah satu dari kita, mungkin mereka tidak ingin menjajah tap mereka juga bukan melayani para masyarakat nusantara melainkan para penggede Belanda dan itu penjajah,. Jadi bukankah ketika kita harus mere-... bangunan mereka seharusnya kita mengingat tentang kepedihan negara kita yang terjajah 350 th (tp versi baru menyebutkan tidak lebih dari 80 atau 30 th saya lupa akan hal itu, seharusnya ketika melihat bangunan itu kit teringat kepdihan masyarakat kita akibat monopoli mereka dll. Tapi semua mata sekarang tertutup, kita tidak lagi peduli akan masa lalu yang penting bangunan lebih dari 50 th harus dilestarikan meskipun itu menyimpan kenangan-kenangan buruk penjajahan dahulu. Yang saya heran lagi candi kita usianya lebih dari ratusan tahun, juga mengadaptasi iklim dsb, selain itu banyak pelajaran serta nilai yang dapat diambil tapi mengapa ada perbedaan yang begitu mencolok antara candi dan bangunan kolonial. Sudah seharusnya jika kita bisa merevitalisasi atau merekonstruksi semua candi baru kita bisa beranjak pada bangunan kolonial bukan malah ditinggalkan dan menadi sekedar legenda usang. Memang candi badut juga tidak sebesar candi borobudur yang bisa mendatangkan banyak devisa bagi negara ini namun tunjukkanlah rasa hormatmu terhadap pendahulu karena tanpa mereka kita tidak akan bisa mencapai yang sekarang ini. Janganlah melupakan sejarah,. siapa yang tidak senang ketika mendengarkan cerita hayam wuruk yang memotong telinga tentara kubilai khan, dan juga ketika fatahillah menggempur VOC di Batavia,. ada semacam kebanggaan bahwa kita bisa bangkit dan berusaha untuk melawan sesuatu yang tidak baik,...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar