Watch out

Watch out

Embun

Titik air menggantung diujung daun
Dingin merasuki setiap hembusan angin
Gelap menyingkap, berlari diterjang sinar..

Hei kau yang berdiri disana, diujung batas perdu yang menguning
Senyap sendiri ditengah gemerisiknya rerumputan
Memandang jauh pada gelapnya pepohonan cemara yang menjulang
Tatapan syahdu menggantung di pelupuk mata, mengerjapkan kepedihan yang mendalam
Matahari belum juga menyingsing namun seakan kau sudah “mati” dan menyerah pada dunia ini… Ada apakah gerangan?

“Tidak apa” kau menjawab sambil tercekat.. tercekat akan kehadiranku ataupun gelapnya dunia, entah aku pun tak tau
Senyum tulus menghiasi wajahmu, sebuah ketulusan yang menyiratkan adanya kepasrahan yang tidak berdasar
Sejenak kembali kau menatap barisan cemara tua dengan tatapan kosong, dingin dan gelap. Dinginnya embun pagi pun tak sedingin rasa yang kau rasakan saat ini..

“Apa kamu pernah berpikir tentang kematian?”
Sejenak aku terbelalak, tidak menyangka bibir tipisnya memunculkan kata-kata yang mendalam.
Mati? Bukannya aku tidak mau berpikir, namun kehidupan terlalu hiruk pikuk hingga otak menjadi letih untuk berpikir, apalagi itu kematian

“Apa kamu takut mati” sejurus kalimat meluncur kembali darinya dan kembali disusul bertubi-tubi..
“Apa kamu takut kesakitan menjelang ajalmu?”
“Apa kamu takut bahwa kamu tidak punya cukup usia untuk mencapai semua yang kau inginkan di dunia?”
“Apa kamu takut kehilangan orang-orang tercintamu, lepas berdiri sendiri menghadapi kehidupan selanjutnya? ”
“Apa kamu takut untuk bertanggung jawab atas berbagai macam hal yang telah kamu lakukan di dunia ini?”
“Apa kamu takut berada di tempat asing dimana tidak ada satupun yang mengenalmu?”
“Apa kamu takut akan ketidaksiapanmu menghadi dunia itu dan berbagai tetek bengeknya?”
"Apa kamu juga takut bersedih ketika sesorang itu pergi meninggalkan kita? karena keegoisanmu akan berbagai kenangan bersamanya, ketidak mampuanmu dalam menghadapi dunia tanpa ada dia disampingmu?" 
“Apa kamu takut karena ketidak tauanmu akan mati?”
“Apa kamu takut…”

Kini aku yang tercekat melihat bibirnya berhenti berucap, matanya tetap syahdu menerawang jauh, nafasnya terdengar berat disusul hembusan perlahan, tak lama setitik embun membasahi wajahnya..




Selamat kuucapkan padamu yang telah berhasil melihat dimensi selanjutnya Dari sebuah kehidupan

Selamat kuteriakkan padamu yang telah terbebas dari wujud pengekangmu, nafsu lahiriah, kefanaan dunia (Sebenarnya aku pun tak tahu mana yang lebih fana, dunia ini atau kematian)

Selamat kupersembahkan kepadamu yang telah lulus dari berbagai macam cobaan, jebakan, buaian...

Selamat..  kepadamu..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar