Watch out

Watch out

Apa arsitektur itu?

Saya mantan mahasiswa arsitektur dan perkenankan saya mengemukakan pendapat mengenai ilmu ini. Subjektifitas ini saya dapatkan dari berbagai macam matakuliah yang pernah saya anut..

Mungkin banyak orang beranggapan kalau arsitektur itu menggambar, sedikit lebih kompleks lagi seni merancang sebuah bangunan, orang awam mengatakan rumah, orang bisnis mengatakan hotel, mall dan lain-lain dst dst.. ya intinya arsitek adalah orang yang menggambar apapun yang diperlukan sebuah bangunan. Tidak hanya itu, yang terpenting adalah konsep bagaimana bangunan, ruang, aktivitas, makna, dll itu dapat terwujud, dan melalui ini saya akan berbagi pengalaman dengan apa yang dimaksud merancang itu

Pelajaran pertama saya setelah menjadi mahasiswa arsitektur adalah tentang dwimatra dan trimatra, apa itu? (mungkin google bisa menjelaskan dengan lebih rinci dari saya) yang pasti dwimatra terkait dengan seni dua dimensi dan trimatra terkait dengan seni tiga dimensi. Disini kami diajarkan mengolah rupa hingga bentuk sebuah karya seni dengan tema tertentu. Sepenangkapan saya beliau2 ingin supaya kami mahasiswanya dapat menajamkan unsur estetika kami. Indah melalui tatanan, bentuk, rupa disinilah saya memahami bahwa arsitektur dan estetika adalah kesatuan mutlak. Seorang arsitek harus mampu membuat bangunan itu indah dari rupa (wajah, fasad), bentuk hingga tatanannya.

Pelajaran kedua adalah mengenai ruang terbuka, kami disuruh merancang taman kota, sebuah ruang terbuka yang bersifat publik. Pada periode ini saya mulai mengenal fungsi, yaitu kebutuhan ruang yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Bisa dikatakatan bahwa fungsi adalah batasan untuk sebuah estetika. Kita tidak bisa terus mengeluarkan ide liar jika secara fungsi hal itu tidak dapat terpenuhi. Bila itu bukan sebuah batasan makakeduanya pun harus sejalan karena ketika fungsi menjadi tokoh utama maka tatanan ruang tersebut akan membosankan. Terkait dengan fungsi ini ada banyak hal yang terkait, ada aktivitas, sirkulasi, waktu, dan banyak hal lain yang tidak saya perhatikan saat itu.
 Tidak lupa juga disini mulai memahami bagaimana mengolah ruang, bukan bangunan. Bisa dikatakan bahwa ruang adalah sebuah bentuk tiga dimensi yang dibatasi oleh hal imajiner bahkan alam seperti pohon atau kontur tanah sebagai batas ruang tersebut. Dengan kata lain ada hal lain selain bangunan fisik yang harus diperhatikan oleh arsitek. (Ya ketika saat itu pun saya tidak begitu memahaminya sama seperti anda saat ini mungkin)

Periode ketiga mungkin sudah mulai sesuai dengan bayangan banyak orang, yaitu mendesain rumah. Rumah tinggal dimana pemilikinya adalah eksekutif dengan profesi tertentu. Disini saya mulai paham bahwa ada kotak-kotak yang disebut denah itu tidak bakal bisa tertata sesuai dengan keinginan pribadi. Saya diharuskan menganalisa lingkungan sekitar, dimana lokasi itu berada, faktor alam, karakter sosial, langgam arsitektur area tersebut. Buat apa?
Apa kalian tau bahwa arsitektur itu bukan bangunan tunggal, bukan tentang sesuatu yang egois dan berdiri gagah, pada satu spot. Apapun yang anda desain harus bisa memahami lingkungan dimana dia berada, memasukkan lingkungan sebagai bagian dari desain anda, membuat bangunan di sekitar tidak bermasalah dengan desain anda, adanya interaksi dengan ruang masyarakat sosial sekitar dst dst. Hahaha.. Untuk bocah ingusan yang baru masuk jurusan ini pun pasti ingin mengejar prestige yang tinggi, bahwa apa yang saya desain harus menjadi yang paling paling dan paling untuk membuat orang lain terkesima. Ke egoisan atau biasa disebut idealisme ini diuji dengan membuat sebuah rumah yang dapat mempunyai keterkaitan dengan “ruang luar” dan ruang dalam terkait dengan fungsi spesifik tertentu (jangan dilupakan tentang profesi, hobbi, dan kenyamanan individual tadi).
Disini saya menarik kesimpulan bahwa sebuah bangunan harus memiliki keterkaitan antara ruang luar dan ruang dalam dari fungsi yang spesifik tadi. Ruang luar terbentuk dari kondisi lingkungan sekitar (tatanan), ruang dalam yang dimunculkan dari bentuk kepribadian fungsi tadi serta kreativitas arsitek (untuk tetap membuat bangunan tersebut tetap memiliki estetika dari rupa dan bentuk)

Next chapter adalah membuat sebuah bangunan publik atau katakanlah penginapan pada lahan berkontur (katakanlah tidak datar, lahan yang memiliki tingkat kemiringan rendah bahkan curam). Disini kami difokuskan untuk mengolah bagaimana kontur lahan tersebut menjadi sebuah keunggulan bagi tapak kami.  Nah pada periode ini pula ada salah satu mata kuliah yang saya ikuti yaitu desain tapak, sebuah mata kuliah yang juga menekankan pentingnya pengolahan tapak pada kondisi terkait dengan wilayah tertentu seperti di perairan, pegunungan, gurun, perkotaan, pedesaan dll (andai sudah ada negeri di awan). Entah bagaimana saya kedapatan di wilayah pegungungan yang memiliki kontur yang ekstrim pula.
Nah, terus terang akan lebih mudah untuk mengelola di tanah datar daripada di tanah yang berkontur, namun saya sadar satu hal penting selain sebisa mungkin kita tidak merusak tanah dengan cut n fill, menjadikan pohon dan vegetasi lainnya sebagai bagian dari desain, membuat desain ruang dalam yang unik (mezzanine, tingkatan lantai tertentu dll), keselarasan dengan alam dan lain lain. Satu hal penting itu adalah view, bagaimana seseorang didadalam ruangan dapat memandang keindahan melaui frame-frame di dalam ruangan dan bagaimana tatanan pada lereng itu bisa indah dilihat orang dari luar, karena indera penglihatan manusia merupakan indera yang dominan dalam menangkap keindahan akan sesuatu sehingga potensi seperti pemandangan di sebuah lereng akan dapat meningkatkan kenyamananan, ketenangan hingga psikologi sesorang di dalam ruang dan membuat estetika tata pada kontur tersebut untuk orang yang memandangnya.

Project kelima kami di kenalkan pada bangunan tinggi, tepatnya mix used high rise building. Apa itu? itu adalah rancangan sebuah bangunan tinggi dengan berbagai macam fungsi untuk kepentingan privat hingga publik didalamnya. Keterkaitan fungsi tersebut menjadi salah satu kompleksitas yang harus dipenuhi, bagaimana sirkulasi, hubungan antar fungsi untuk tidak saling bertabrakan hingga citra kota (Ya bisa saja bangunan itu menjadi point interest dalam kawasan tersebut bahkan kota). Sebagai contoh dulu saya merevitalisasi stasiun semut Surabaya yang (maaf) terkesan kumuh dan semerawut, Nah disitu saya diharuskan menambahkan tempat untuk jasa ekspedisi (pengiriman barang dalam skala nasional dan internasional), pusat grosir dan mall, hotel dan stasiun itu sendiri tidak lupa adanya pertambahan fungsi lain seperti taman air, pusat kuliner Surabaya, hingga terminal pergantian moda transportasi yang dihasilkan dari anlisis lingkungan sekitar.

Disini saya pun menemukan sesuatu yang belum banyak tersentuh sebelumnya antara lain sistem struktur, utilitas bangunan, bla bla bla bla bla bla 

Bersambung..


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar