Sebagai seorang mahasiswa yang terpuruk dan terjebak dengan tugasnya, saya bertanya apa itu AFTA 2015, pernah dengar sih di diskusi kampus kalau bakal ada pasar bebas 2015, namun tetap jika ditanyai mengenai AFTA 2015 itu masih jadi tanda tanya besar (maklum bukan anak ekonomi atau politik, tau saya hanya kertas gambar).. Dan kompetisi ini membuat saya mencari tau lebih jauh yang selengkapnya bisa anda lihat disini.
Dari situ juga saya tahu bahwa perjanjian itu sudah ada sejak setahun setelah saya lahir.. dan batas akhirnya adalah 2015.. Tujuannya sangat mulia yang intinya membuat perdagangan, investasi meningkat agar dari segi ekonomi Indonesia khususnya dan ASEAN pada umumnya dapat meningkat dan menjadi kekuatan baru di dunia ini, dan secara EKONOMI memang seharusnya akan sangat membantu Indonesia, karena bisa jadi dengan banyaknya pilihan barang yang sama dipasar maka harga barang tersebut akan semakin murah namun.... apa tidak malah mematikan usaha mikro?? apa tidak akan menjadi monopoli bagi mereka-mereka berkantong tebal? Mampukah rakyat ini bersaing dan saling sikut untuk tetap survive?
Jika melihat masyarakat SOSIAL-nya jelas akan terjadi tanda tanya besar, jangankan masyarakat yang mengerti akan AFTA, mengerti pemilu 2014 tanggal berapa saja banyak yang nggak tau. Jadi sudah jelas dari tingkat pengetahuan masyarakat masih sangat kurang akan hal-hal terdidik bsik pada tingkat nasional apalagi internasional. Belum lagi masyarakat pedalaman yang masih menggantungkan hidupnya pada hutan rimba, yang hanya cukup dan puas jika dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Justru merekalah yang akan merasakan dampak yang hebat ditengah kekurang tahuan mereka akan teknologi dan pereadaban.. tanah rimba mereka mulai dimasuki orang demi investasi dan keuntungan segelintir orang. Namun disisi lain mengingat masyarakat Indonesia sudah banyak yang bangkit dan mulai menghasilkan produk-produk kreatif yang diminati oleh dunia, maka hal tersebut akan menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi perdagangan bebas ini, dan keterbukaan bangsa Indonesia dalam menerima pengaruh dari bangsa lain juga dapat dimanfaatkan, dimodifikasi dan diakulturasi dengan baik dan dijadikan sebagai modal kreatifitas Indonesia. Namun SEJARAH mencatat bahwa keterbukaan bangsa Indonesia terhadap bangsa lain seakan menjadi hal yang mengasyikkan bagi bangsa lain untuk mengeksploitasi Sumber Daya Alam, mineral, budaya, keanekaragaman hayati dll. Kita harus ingat mengenai Belanda dan VOC nya yang selama 350 tahun (opini versi baru menyebutkan 80 tahun) mengekspolitasi berbagai macam kekayaan Indonesia. Hal tersebut sangat memungkinkan untuk terulang kembali pada AFTA 2015 dimana mental rakyat ini masih tetap sebagai pengekor yang akan kembali "terjajah" secara non fisik. Hal ini mengingatkan kita akan kejadian-kejadian pada jaman kerajaan dan VOC dulu, dimana VOC/Gubermen Hindia Belanda melalui raja-raja dan adipati-adipatinya mengeksploitasi masyarakat untuk menjarah berbagai kekayaan alam. VOC sebagai sumber kekuatan asing dengan image Maha-nya akan kembali merongrong raja-raja atau pemerintah serta pemilik modal untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Hal tersebut akan sangat mungkin terjadi mengingat rakyat Indonesia terdidik untuk mantuk, manut kepada orang-orang yang lebih besar (penggede). Dengan demikian akan sangat kental kaitannya dengan PENDIDIKAN masyarakat Indonesia. Membenahi mental yang sedemikian rupa perlu adanya sebuah upaya revolusi pendidikan yang dasyat. Namun sekali lagi jangankan untuk maju dan berdiri sejajar dengan bangsa lain, mereka masyarakat di bagian barat dan timur saja masih harus berjalan puluhan kilo untuk pergi ke sekolah. Jangankan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) mereka yang disebelah barat dan timur harus dibedakan bobot materi ujian nasionalnya dengan yang ditengah karena (maaf) logika berpikirnya masih berbeda tahapan dengan mereka yang ditengah. Meskipun demikian tidak sedikit pula mereka pelajar-pelajar dari tengah (Jawa) yang mengharumkan nama bangsa ini dimata internasional, kita wajib bersyukur dengan keberadaan mereka yang mendunia, dan tetap harus miris dengan apa yang dialami saudara-saudara kita di pinggir barat dan timur. Disamping itu ada yang dapat dibanggakan dari masyarak pinggir ini dalam hal BUDAYA. Yaa, melalui budaya mereka bisa mendunia, tari-tarian, hingga adat Wae Rebo, Toraja, Minang kini menjadi perhatian mata dunia. Dulu budaya sering dikaitkan dengan mistis yang secara logika menjadi sebuah hambatan bagi bangsa ini untuk berkembang. Namun kontemporerisasi kebudaan seakan menjadi senjata untuk mengawal pasar bebas. Yaa kita seharusnya dapat menggunakan berbagai budaya itu sebagai sebuah branding layaknya K-pop ataupun Hollywood namun tetap dengan rasa Indonesia. Barang-barang seni yang dikontemporerisasi akan dapat menjadi komoditi yang baik dalam perdagangan bebas. Hal ini akan sangat berkaitan dengan pemerintah dalam mempersiapkan dan mengawal masyarakatnya untuk menuju pasar bebas. PEMERINTAH dan POLITIK seakan menjadi kunci untuk membina masyarakat untuk menuju dunia baru ini. Dengan adanya sistem pemerintahan dan politik yang sehat maka akan dapat mengurangi orang-orang super kaya Indonesia dan orang-orang superkaya asing memonopoli berbagai usaha dan kekayaan alam, sedangkan mereka yang bermodal kecil bahkan yang mepet-mepet hanya dapat melongo? Jadi jika Indonesia ini hanya terdiri dari Jawa, kemungkinan besar akan sangat siap untuk mengarungi AFTA 2015, namun mengingat pulau lain belum dan sedang berkembang sepesat Jawa maka perlu adanya pemerataan dan backing yang kuat dari pemerintah. Dengan demikian pemilu 2014 pasti akan menjadi salah satu tonggak sebagai salah satu solusi jangka pendek untuk dapat mendapatkan sesosok pemimimpin ideologis yang berorientasi kepada rakyat kecil dan memberantas berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Survive Indonesia...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar