Watch out

Watch out

Hujan (a reflection)

Dulu.. dimasa semua masih berbagi secara rata (musim) kau selalu dinanti sebagai pembawa berkah, gen kesuburan, tanda hiruk pikuk kebahagiaan setiap umat manusia. Namun kini.. kau diejek, caci maki, bahkan laknat tertuju padamu, karena kejatuhanmu ke permukaan bumi ini tidak sesuai dengan ekspektasi mereka (manusia modern) dan muncullah berbagai rekayasa manusia untuk menghilangkanmu atau menghadirkanmu sesuka mereka.. Sesuka mereka tanpa memperhatikan bahwa kau juga memiliki siklus hidup sendiri, tanpa perlu dipaksa oleh manusia. Siklus yang mengindahkan kepentingan alam.

Dulu kau sempat dipuja dengan berbagai macam tari-upacara adat, sesajen untuk mengundangmu hadir, juga pesta rakyat diadakan dengan penuh harap akan kemauanmu untuk datang dengan disertai tawa bahak, keceriaan. Tak ada satu orang pun ingin kau tinggalkan. Namun kini.. kau seakan menjadi petaka dimana manusia ingin selalu menghindarimu, mengkambinghitamkanmu dan alam atas apa yang telah mereka sendiri lakukan hingga muncul berbagai kerusakan.. Sedih, duka dan lara menjadi hal yang selalu menyertaimu dewasa ini.

Dulu kau mengaliri sungai, sawah, irigasi, bendungan demi kehidupan alam dan juga manusia namun kini kau menyapu rumah, menenggelamkan dataran juga manusia tanpa ba bi bu lagi.

Dulu kami anak kecil ini menantikanmu, berlari riang sambil membasahi diri dengan tetesanmu, menikmati setiap pesona yang kau bawa dengan petir dan kilat yang membuat terpaku-terpesona sesaat mengingat keindahan yang hanya muncul pada saat yang tepat. Namun kini.. bersamamu malah menjadi sebuah larangan, kemarahan, pesakitan bahwa kau adalah penyebar penyakit sumber racun dan polusi yang sesungguhnya tidak lebih adalah buatan manusia sendiri.

Namun itu semua bukan salahmun hujan. Hanya penyangkalan manusia yang membuat kami para manusia ini tidak bersalah karena tidak lagi dapat menjaga alam dan keseimbangannya dengan dunia binaan kreasi kami sendiri. Kamilah tokoh antagonis utama dan kami pulalah penyebar kebohongan tetntangmu. Sungguh bersamamu merasakan setiap tetes yang menghujani tubuh adalah salah satu sensasi terbaik yang pernah dirasakan kulit dan hati ini, melihat kilatan liukan cahaya linear yang tertangkap mata, juiga gelegar yang memekakkan setiap rasa yang kesepian



Tidak ada komentar:

Posting Komentar