Saudaraku.. Makhluk sewujud dan serupa.. dengan berbagai macam logika yang tersemat pada setiap tingkah laku.. juga rasa-sense yang setia menuntun setiap tindak tanduk kita yang terakumulasi menjadi berjuta kemungkingan.. Manusia pemuncak setiap rantai yang ada di bumi..
Sebelumnya perkenankan aku memanggilmu saudara, hei manusia... sebuah ikatan yang seharusnya diatas teman dan kawan-kawanku sebelumnya.. ikatan terdekat bagi setiap makhluk di bumi ini..
Manusia, makhluk istimewa, keistimewaannya karena kita adalah makhluk yang sempurna dengan otak yang bisa berpikir, berangan, berencana, dan juga hati atau "rasa" tentang ikhlas, cinta, yang bisa membuat makhluk lain tertegun. Manusia sang perencana, arsitek kehidupan akan sebuah keinginan dalam sebuah masa, penentu peradaban, raja dari segala yang nampak (mungkin juga dari yang tak nampak) Seakan semua itu oleh kita, dari kita dan untuk kita..
Manusia kau sangat hebat dalam mencipta, atau mungkin lebih tepatnya mengkonversi dari satu zat ke zat lain yang berguna bagi kami manusia yang lainnya.. dan sepertinya baru-baru ini mulai berguna bagi makhluk hidup lain serta bumi dan angkasa luar.. Penemuanmu, atau hal baru yang dapat memanjakan berbagai indera dalam rasa yang tak biasa bagi manusia lain tentunta.. Sebut saja musik, alam memang memiliki suaranya sendiri, namun butuh sebuah proses untuk dapat mendengarkan alam yang tidak semua manusia bisa mendengarkannya. Namun musikmu bisa dapat dengan lebih mudah dicerna hingga mengalirkan setiap jentik bagian tubuh untuk mengikuti iramanya, ataupun dengan segera menutup telinga dan berkata "suara apaan nih? jelek banget". (Mungkin kita bisa membahas lebih lanjut mengenai musik alam dan musik manusia ini karena berkaitan dengan bahasa yang digunakan, yang sudah jelas bahwa bahasa dan juga cara interaksi antar manusia dan manusia dengan alam itu sangatlah berbeda). Adalagi hal yang membuat kita sebagai manusia addict, yaitu gadget, sebuah teknologi yang dapat mempermudah kehidupan kita, dimana yang semula harus berlari kesana kemari untuk memastikan sesuatu kini hanya perlu pencet-pencet untuk menghubungi manusia lain. (Namun sekarang aplikasi seperti google fit, maps, edomondo tracker dan lain-lain lah yang menyuruh dan mengatur kita untuk berlari, ironi? meskipun tujuannya baik.) Adapula listrik oleh M Faraday yang dewasa ini menjadi kunci kehidupan manusia, sumber kehidupan lain selain elemen-elemen alam. Manusia makhluk terbaik, dan merupakan perwakilan Tuhan di bumi ini..
Lingkungan ini, alam ini, binaan ini.. terlihat mengesankan ketika manusia memberikan campur tangannya di dalamnya.. Arsitektur contohnnya, ditengah menjulangnya tower dan menara langit tidak sedikit dari kalian yang menyentuh dasar dengan mengkombinasikan unsur alam dengan binaan itu? Sudah ada dari kita yang berprofesi sebagai arsitek yang mulai berpusing-pusing dengan alam,. Belum lagi organisasi semacam WWF (World Wide Fund for Nature) yang mulai menjadi penyelamat?, terlepas dari kontra yang ada, yang penting sebagian dari kita sudah mulai peduli dengan keadaan sekitar.
Saudaraku.. kita ini istimewa bukan? makhluk sempurna? pemuncak setiap siklus yang ada di bumi ini? Kita ini raja, namun raja hutan pun tidak selalu memangsa hewan lain sebagai makanannya, dia bisa tidak makan dalam bebeapa kurun waktu setelah mangsanya yang terakhir, sedangkan kita pagi, siang, sore, malam, tengah malam dan seterusnya. Secara alamiah mereka memiliki rasa cukup dan puas yang tidak berlebihan seperti kita manusia, yang terus merongrong isi dunia demi kepuasan pribadi, egois sentris untuk diri sendiri dan hanya untuk manusia lainnya.
Hei manusia, kita ini memang ditakdirkan memiliki otak dan sense bukan? Sehingga kita bisa mengelola (bukan menguasai) berbagai macam sumber yang disediakan oleh alam. Ketidak seimbangan kekuatan otak dan kenafsuan sense dapat membuat dunia ini tidak seimbang bukan? Bukankah pada suatu masa dulu (world war I, II) sudah pernah terjadi bahwa setiap keinginanmu dapat membuat bumi sedekat jentik jari dengan kiamat? Kiamat bagi bumi, tanaman, hewan dan sepesiesmu sendiri tentunya. Terlalu banyak ideologi dan idelisme yang diciptakan otak kita tanpa ada satu arahan dari makhluk lain. Oke kita memiliki guru, suhu, pemuka agama tapi mereka juga manusia yang juga memiliki pola pikir dan rasa yang sama dengan manusia lainnya (mungkin sedikit dari kita tidak sama). Mungkin sebagain dari kita mulai memahai berguru dari alam, yang aku sendiri juga kesulitan dalam memahaminya, namun apakah tidak mengasyikkan ketika kau berada sedikit lebih dekat dan bersandar di atas pohon, melepaskan walkmanmu seraya mendengar gemerisik daun tertiup angin? Aku memang tidak paham apa yang dia komunikasikan tapi yang pasti hingga saat ini aku akan selalu merindukan sensasi itu yang tidak akan pernah dapat dibuat oleh manusia,,,
Hei saudaraku.. sudah waktunya kita menoleh, tidak.. berbalik arah sebagai seorang pelayan.. bukan merendahkan martabat (martabat itu hanya akan menjadi penghalang untuk berbuat baik, terlebih dihadapan manusia lain) bukan pula pelayan atau jongos, namun pengelolaan bumi ini bukan hanya oleh kita, dari kita dan untuk kita.. namun oleh kita dari mereka dan untuk semua..
Masih banyak yang ingin ku berangus tentang cara berpikir kita, perlakuan kita ke makhluk lain, menelanjangi ketidak sempurnaan manusia sebagai makhluk yang sempurna, manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, manusia yang meledak-ledak akan hawa nafsu, manusia yang tidak memahami bahwa binatang juga punya otak (karena mereka bisa berkomunikasi, dan insting adalah sebuah proses didepan berpikir), kemewahan, gaya hidup, penguasaan atas dunia.. namun memang seperti itu seharusnya sebuah takdir berjalan.. dan jika tidak terjadi demikian kiamat pun tak akan datang.
Manusia kau sangat hebat dalam mencipta, atau mungkin lebih tepatnya mengkonversi dari satu zat ke zat lain yang berguna bagi kami manusia yang lainnya.. dan sepertinya baru-baru ini mulai berguna bagi makhluk hidup lain serta bumi dan angkasa luar.. Penemuanmu, atau hal baru yang dapat memanjakan berbagai indera dalam rasa yang tak biasa bagi manusia lain tentunta.. Sebut saja musik, alam memang memiliki suaranya sendiri, namun butuh sebuah proses untuk dapat mendengarkan alam yang tidak semua manusia bisa mendengarkannya. Namun musikmu bisa dapat dengan lebih mudah dicerna hingga mengalirkan setiap jentik bagian tubuh untuk mengikuti iramanya, ataupun dengan segera menutup telinga dan berkata "suara apaan nih? jelek banget". (Mungkin kita bisa membahas lebih lanjut mengenai musik alam dan musik manusia ini karena berkaitan dengan bahasa yang digunakan, yang sudah jelas bahwa bahasa dan juga cara interaksi antar manusia dan manusia dengan alam itu sangatlah berbeda). Adalagi hal yang membuat kita sebagai manusia addict, yaitu gadget, sebuah teknologi yang dapat mempermudah kehidupan kita, dimana yang semula harus berlari kesana kemari untuk memastikan sesuatu kini hanya perlu pencet-pencet untuk menghubungi manusia lain. (Namun sekarang aplikasi seperti google fit, maps, edomondo tracker dan lain-lain lah yang menyuruh dan mengatur kita untuk berlari, ironi? meskipun tujuannya baik.) Adapula listrik oleh M Faraday yang dewasa ini menjadi kunci kehidupan manusia, sumber kehidupan lain selain elemen-elemen alam. Manusia makhluk terbaik, dan merupakan perwakilan Tuhan di bumi ini..
Lingkungan ini, alam ini, binaan ini.. terlihat mengesankan ketika manusia memberikan campur tangannya di dalamnya.. Arsitektur contohnnya, ditengah menjulangnya tower dan menara langit tidak sedikit dari kalian yang menyentuh dasar dengan mengkombinasikan unsur alam dengan binaan itu? Sudah ada dari kita yang berprofesi sebagai arsitek yang mulai berpusing-pusing dengan alam,. Belum lagi organisasi semacam WWF (World Wide Fund for Nature) yang mulai menjadi penyelamat?, terlepas dari kontra yang ada, yang penting sebagian dari kita sudah mulai peduli dengan keadaan sekitar.
Saudaraku.. kita ini istimewa bukan? makhluk sempurna? pemuncak setiap siklus yang ada di bumi ini? Kita ini raja, namun raja hutan pun tidak selalu memangsa hewan lain sebagai makanannya, dia bisa tidak makan dalam bebeapa kurun waktu setelah mangsanya yang terakhir, sedangkan kita pagi, siang, sore, malam, tengah malam dan seterusnya. Secara alamiah mereka memiliki rasa cukup dan puas yang tidak berlebihan seperti kita manusia, yang terus merongrong isi dunia demi kepuasan pribadi, egois sentris untuk diri sendiri dan hanya untuk manusia lainnya.
Hei manusia, kita ini memang ditakdirkan memiliki otak dan sense bukan? Sehingga kita bisa mengelola (bukan menguasai) berbagai macam sumber yang disediakan oleh alam. Ketidak seimbangan kekuatan otak dan kenafsuan sense dapat membuat dunia ini tidak seimbang bukan? Bukankah pada suatu masa dulu (world war I, II) sudah pernah terjadi bahwa setiap keinginanmu dapat membuat bumi sedekat jentik jari dengan kiamat? Kiamat bagi bumi, tanaman, hewan dan sepesiesmu sendiri tentunya. Terlalu banyak ideologi dan idelisme yang diciptakan otak kita tanpa ada satu arahan dari makhluk lain. Oke kita memiliki guru, suhu, pemuka agama tapi mereka juga manusia yang juga memiliki pola pikir dan rasa yang sama dengan manusia lainnya (mungkin sedikit dari kita tidak sama). Mungkin sebagain dari kita mulai memahai berguru dari alam, yang aku sendiri juga kesulitan dalam memahaminya, namun apakah tidak mengasyikkan ketika kau berada sedikit lebih dekat dan bersandar di atas pohon, melepaskan walkmanmu seraya mendengar gemerisik daun tertiup angin? Aku memang tidak paham apa yang dia komunikasikan tapi yang pasti hingga saat ini aku akan selalu merindukan sensasi itu yang tidak akan pernah dapat dibuat oleh manusia,,,
Hei saudaraku.. sudah waktunya kita menoleh, tidak.. berbalik arah sebagai seorang pelayan.. bukan merendahkan martabat (martabat itu hanya akan menjadi penghalang untuk berbuat baik, terlebih dihadapan manusia lain) bukan pula pelayan atau jongos, namun pengelolaan bumi ini bukan hanya oleh kita, dari kita dan untuk kita.. namun oleh kita dari mereka dan untuk semua..
Masih banyak yang ingin ku berangus tentang cara berpikir kita, perlakuan kita ke makhluk lain, menelanjangi ketidak sempurnaan manusia sebagai makhluk yang sempurna, manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, manusia yang meledak-ledak akan hawa nafsu, manusia yang tidak memahami bahwa binatang juga punya otak (karena mereka bisa berkomunikasi, dan insting adalah sebuah proses didepan berpikir), kemewahan, gaya hidup, penguasaan atas dunia.. namun memang seperti itu seharusnya sebuah takdir berjalan.. dan jika tidak terjadi demikian kiamat pun tak akan datang.
....................
Aku kacau, otak ini selalu berpikir bahwa seharusnya sebagai sesama makhluk yang serupa dan mirip keterbedaan ini harusnya sangat tidak kentara, mengingat dari segi bentuk, perilaku, sifat otak yang dimiliki setiap manusia dan membuat kita ini seharusnya semakin mirip satu sama lainnya. Mungkin juga karena kita sedarah, tersusun dari zat yang sama dari partikel terkecil hingga zat-zat lain apapun itu juga.. Tidak seperti ketika dibandingkan dengan kawan-kawanku seperti pohon yang terdiri dari klorofil, akar, daun juga langit dengan awannya yang terlalu abstrak untuk disebut sebagai sebuah bentuk? Namun semakin dalami sebuah jarak dengan manusia justru jarak laninnyalah yang aku dapatkan dari saudaraku. Entah bagaimana kita yang sama ini bisa teramat sangat berbeda, atau memang hanya otak ini yang menganggap berbagai perbedaan itu?
Menyedihkan memang, terkadang ketika aku harus berhadapan denganmu saudaraku, bukan bertarung secara fisik memang, atau bisa juga fisik ikut terlibat, yang pasti itu terjadi karena kita tidak sejalan, sepemikiran.. Otak yang seharusnya menjadi penerang ide-ide pemikiran suatu gagasan malah menjadi sebuah embeda yang tentu belum diiyakan oleh orang lain. Hati yang seharusnya merasakan kenyamanan yang sangat disekeliling kita, malah diam membeku merasakan gelap, hening, dingin bahkan cacian hujatan bibir-bibir tak bertoleransi. Hangat itu kan yang kita cari bukan saudaraku? Hangat yang bukan karena matahari menyinari bumi. Keceriaan dan kebersamaan yang kita tuju bukan? Bukan keramaian di tengah hiruk pikuk kotek ayam. Namun mengapa jarang sekali kita seiya sekata dalam berbagai macam hal dengan mutlak? Atau mungkin memang karena kita ini berbeda?
* Mungkin kambing, pohon, ayam, langit, bumi juga berbeda.. Namun mereka menerima perbedaan itu apa adanya tanpa perlu memikirkan kenapa perbedaan itu salah dan justru menjadi penghalang untuk berkata.. iya kita memang serupa.. tapi tak sama
#is that bad to be different?
#yes i'm (we are) different.. so?
#1 Langit #2 Pohon #3 Bumi #4 Samudera #5 Manusia
#yes i'm (we are) different.. so?
#1 Langit #2 Pohon #3 Bumi #4 Samudera #5 Manusia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar